“Lahir Kembali Setelah 22 Tahun, Komppas Indonesia dan Solidarity Center Hidupkan Regenerasi Musik Pelajar”
Taliwang, Hariansumbawa | Festival Musik Band Pelajar se-Nusa Tenggara Barat (NTB), Rockmasketeer 3, memasuki babak paling menentukan. Setelah dua malam berlangsung meriah, delapan band terbaik jenjang SMP dan SMA dipastikan melaju ke babak final yang digelar Sabtu malam (7/11/2026), mulai pukul 20.00 Wita, di Gedung Hadinapati, Lingkungan Kemutar Telu Center, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
Ajang musik pelajar yang digagas Komppas Indonesia bersama Solidarity Center ini bukan sekadar kompetisi mencari juara. Lebih dari itu, Rockmasketeer menjadi ruang kebangkitan kreativitas, regenerasi musisi muda, sekaligus upaya menghidupkan kembali gairah musik pelajar di tengah perubahan industri musik yang semakin dinamis.
Rockmasketeer 3 memiliki perjalanan panjang. Festival ini kembali hadir setelah 22 tahun sejak penyelenggaraan Rockmasketeer pertama pada 2003 dan Rockmasketeer kedua pada 2004. Kini, melalui edisi ketiga, Sumbawa Barat kembali menjadi tuan rumah Festival Musik Band Pelajar se-NTB dalam rangka memperingati Hari Lahir Kabupaten Sumbawa Barat ke-23.
Kompetisi yang berlangsung selama tiga hari, 5-7 November 2026, telah melewati dua malam pertunjukan. Dewan juri akhirnya menetapkan delapan band yang berhak melanjutkan perjuangan ke babak final. Masing-masing tiga band dari jenjang SMP dan lima band dari jenjang SMA.
Pada kategori SMP, tiga finalis yang akan bertarung memperebutkan gelar terbaik adalah Matansa Band dari MTsN 1 Sumbawa Barat, Sky White Band dari SMPN 1 Taliwang, dan Six String Band dari SMPN 1 Sumbawa. Ketiganya akan memperlihatkan kemampuan musikalitas, kekompakan, kreativitas, serta karakter bermusik di hadapan dewan juri dan penonton.
Sementara kategori SMA dipastikan berlangsung lebih kompetitif dengan lima band finalis. Mereka adalah Wild Horses Band dari SMAN 2 Sumbawa, Vental Band dari SMAN 1 Taliwang, Sun Flower dari SMAN 1 Seteluk, Minus One Band dari SMAN 1 Taliwang, serta Smandatang Band dari SMAN 2 Taliwang. Menariknya, festival ini juga menghadirkan keterwakilan peserta dari Pulau Lombok, yakni SMAN 1 Selong.
Dewan Pembina Komppas Indonesia, Benny Tanaya, S.Adm., mengatakan Rockmasketeer 3 merupakan bagian dari konsistensi Komppas Indonesia dan Solidarity Center dalam menjaga keberlangsungan ekosistem musik pelajar. Menurutnya, ruang kreativitas seperti ini penting dihadirkan kembali ketika minat generasi muda terhadap musik mengalami tantangan di tengah perkembangan industri hiburan.
“Sebagai bentuk konsistensi kita dalam kepedulian terhadap bidang musik. Di tengah musik ini mengalami degradasi kuat sehingga minat anak-anak muda mulai hilang, kita ingin membangkitkannya kembali melalui Komppas Indonesia, Solidarity Center, dan bersama media Harian Sumbawa,” ungkap Benny.
Ia berharap Rockmasketeer tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial peringatan hari jadi daerah. Sebaliknya, festival tersebut harus menjadi agenda berkelanjutan yang mampu melahirkan musisi muda, mempertemukan komunitas musik antarsekolah, serta membuka ruang aktualisasi bagi pelajar di NTB.
Salah seorang dewan juri, Heri Masbiawan, menilai penyelenggaraan festival musik pelajar memiliki manfaat lebih luas dibandingkan sekadar kompetisi. Menurutnya, kegiatan seni dapat menjadi instrumen pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepercayaan diri siswa. Ia juga mendorong pemerintah maupun pihak swasta agar terus memberikan ruang bagi pengembangan potensi seni di lingkungan pendidikan.
Heri menegaskan, pengalaman dalam berbagai kegiatan pembinaan menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam aktivitas seni memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan karakter. Karena itu, keberlanjutan festival seperti Rockmasketeer dinilai penting sebagai bagian dari dukungan terhadap dunia pendidikan.
Sementara itu, juri lainnya, Gigi Alfajar, menyoroti pentingnya mempertahankan Rockmasketeer sebagai wadah regenerasi insan musik di Kabupaten Sumbawa Barat. Menurutnya, keberadaan festival dengan karakter dan konsistensi seperti ini memiliki nilai strategis untuk menjaga kesinambungan talenta musik lokal agar tidak kehilangan ruang berkembang.
Ia juga berharap Rockmasketeer mampu menjadi wahana produktif bagi pelajar untuk menciptakan karya-karya musik baru. Tidak hanya tampil membawakan lagu, para peserta diharapkan memiliki keberanian mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya orisinal yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan industri musik.
“Semoga Rockmasketeer 3 ini dapat menjadi wahana penciptaan karya musik baru dan wahana produktivitas dalam arus industri musik baru,” pungkasnya.
Penyelenggaraan Rockmasketeer 3 sekaligus menjadi pesan bahwa Sumbawa Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan seni dan kreativitas generasi muda. Keterlibatan peserta dari berbagai kabupaten/kota di NTB membuktikan bahwa kegiatan ini memiliki daya jangkau lebih luas, bukan hanya menjadi panggung bagi pelajar di KSB.
Malam final Sabtu nanti menjadi puncak dari seluruh rangkaian kompetisi. Delapan band terbaik akan kembali menunjukkan kemampuan masing-masing untuk memperebutkan predikat juara. Namun, di balik persaingan tersebut, Rockmasketeer menyimpan misi yang jauh lebih besar: menjaga agar semangat bermusik generasi muda tidak padam dan regenerasi insan musik di Nusa Tenggara Barat terus berjalan. (Admin01-Hs)













