Dari Guru Hingga Kasat Pol PP, Jalan Panjang Pengabdian Haji Syarif

banner 120x600

H. Syarifuddin, S.Pd dan Jalan Panjang Menjadi “Kasat Elegan”

“Dari ruang kelas hingga garis depan ketertiban, H. Syarifuddin membuktikan bahwa kepemimpinan sejati bukan sekadar menegakkan aturan, tetapi menghadirkan ketegasan yang tetap berpihak pada kemanusiaan.”

Hariansumbawa.com | Tidak semua pemimpin lahir dari panggung kekuasaan. Sebagian justru ditempa dari ruang kelas, lorong-lorong sekolah, kantor kecamatan, hingga bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat.

H. Syarifuddin, S.Pd adalah salah satunya.

Perjalanan hidupnya panjang. Dimulai dari seorang guru, berlanjut menjadi penilik pendidikan, pejabat di lingkungan pemerintahan daerah, sekretaris camat, camat di dua wilayah strategis, staf ahli bupati, hingga dipercaya memimpin Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumbawa Barat.

Dari dunia pendidikan menuju dunia penegakan ketertiban. Dari mendidik anak-anak di ruang kelas hingga membina ratusan personel penegak peraturan daerah.

Satu benang merah tetap terjaga: pengabdian kepada masyarakat.

LAHIR DARI KELUARGA SEDERHANA

H. Syarifuddin lahir di Jereweh, 9 Juli 1969. Ia merupakan putra pasangan Abu Saman dan Sapiah.

Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah nilai-nilai kehidupan ditanamkan: pendidikan, kerja keras, disiplin, etika, dan tanggung jawab.

Nilai tersebut kemudian menjadi fondasi dalam perjalanan hidupnya.

Syarifuddin menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Jereweh. Setelah itu melanjutkan ke SMP PGRI Jereweh dan SPG Negeri Sumbawa Besar.

Pendidikan formalnya tidak berhenti di sana. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Samawa (UNSA) hingga meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).

Pilihan pendidikan tersebut menjadi awal dari perjalanan panjangnya sebagai seorang pendidik sekaligus birokrat.

DARI GURU, MEMBENTUK KARAKTER PENGABDIAN

Tahun 1993 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan karier Syarifuddin.

Ia mengawali pengabdian sebagai guru di SDN Labuan Sangoro, Plampang.

Dunia pendidikan menjadi ruang pertama baginya untuk belajar tentang manusia.

Mengajar bukan hanya soal menyampaikan pelajaran. Ada proses membangun karakter, memahami anak didik, menghadapi perbedaan, dan menanamkan kedisiplinan.

Lima tahun kemudian, pada 1998, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai guru di SDN 1 Sekongkang.

Di tengah aktivitas sebagai pendidik, pengalaman lapangan terus membentuk cara pandangnya. Ia semakin memahami bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan angka-angka, tetapi juga manusia yang menjadi subjek utama pembangunan.

MASUK KE BIROKRASI

Tahun 2005 menjadi fase baru.

Syarifuddin dipercaya sebagai Penilik Pendidikan Luar Sekolah Kecamatan Sekongkang.

Posisi tersebut memperluas cakrawala pengabdiannya. Ia tidak lagi hanya berhadapan dengan peserta didik di ruang kelas, tetapi juga dengan masyarakat dalam konteks pendidikan yang lebih luas.

Lima tahun kemudian, pada 2010, ia dipercaya menduduki posisi Kasi Penyusunan Program dan Keuangan pada Dinas Dikpora Kabupaten Sumbawa Barat.

Di sinilah pengalaman administratif dan manajerialnya semakin terasah.

Ia mulai berhadapan dengan perencanaan program, pengelolaan anggaran, koordinasi, serta tuntutan birokrasi pemerintahan.

Namun perjalanan itu kembali membawanya lebih dekat kepada masyarakat.

SEKRETARIS CAMAT, LALU CAMAT

Pada 2011, Syarifuddin dipercaya menjadi Sekretaris Camat Sekongkang.

Posisi tersebut menjadi jembatan menuju kepemimpinan kewilayahan.

Enam tahun kemudian, tepatnya pada 2016, ia dipercaya menjadi Camat Sekongkang.

Di posisi inilah sosok Syarifuddin semakin dikenal masyarakat.

Bukan hanya karena jabatannya.

Tetapi karena gaya kepemimpinannya.

Rapi. Tegas. Komunikatif. Tidak berjarak.

Dari situlah muncul julukan yang kemudian melekat: “Camat Elegan”.

Elegan bukan sekadar soal penampilan. Bagi masyarakat, elegan adalah cara membawa diri, cara berbicara, cara mengambil keputusan, sekaligus cara menghadapi persoalan.

Ia dikenal mampu menjaga wibawa jabatan tanpa membangun jarak dengan masyarakat.

DARI SEKONGKANG KE MALUK

Setelah memimpin Kecamatan Sekongkang hingga 2021, perjalanan pengabdian Syarifuddin berlanjut ke Kecamatan Maluk.

Periode 2021–2024 ia dipercaya sebagai Camat Maluk.

Wilayah Maluk memiliki dinamika masyarakat yang beragam. Interaksi antara masyarakat, aktivitas ekonomi, pemerintahan, dan berbagai kepentingan membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan.

Syarifuddin kembali mengandalkan pendekatan yang selama ini menjadi cirinya: tegas ketika aturan harus ditegakkan, tetapi manusiawi ketika persoalan masyarakat membutuhkan pendekatan hati.

Tiga tahun memimpin Maluk semakin memperkuat pengalaman kewilayahannya.

DIPERCAYA SEBAGAI STAF AHLI BUPATI

Tahun 2024, perjalanan kariernya kembali memasuki babak baru.

Syarifuddin dipercaya sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Pemerintahan.

Pengalaman panjang di lapangan bertemu dengan perspektif pemerintahan dan regulasi.

Posisi ini menjadi ruang bagi dirinya untuk melihat persoalan daerah dari sudut yang lebih luas.

Bukan hanya bagaimana sebuah aturan dibuat, tetapi bagaimana aturan itu diterapkan dan dirasakan masyarakat.

2025: MASUK KE GARIS DEPAN KETERTIBAN

Tahun 2025 menjadi titik penting lainnya.

Syarifuddin dipercaya memimpin Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sumbawa Barat sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja.

Dari dunia pendidikan, kecamatan, hingga kini berada di garis depan penegakan ketertiban umum.

Tantangannya jelas berbeda.

Satpol PP berhadapan langsung dengan berbagai persoalan sosial: ketertiban umum, pelanggaran peraturan daerah, kenakalan remaja, keberadaan hewan ternak di kawasan tertentu, hingga persoalan sosial lainnya.

Namun Syarifuddin membawa satu prinsip yang sudah lama ia pegang:

Ketegasan tidak harus identik dengan kekerasan.

MEMBANGUN WAJAH BARU SATPOL PP

Di bawah kepemimpinannya, Satpol PP KSB diarahkan tidak sekadar hadir ketika terjadi pelanggaran.

Tetapi hadir sebagai bagian dari solusi.

Salah satu yang terlihat adalah penertiban hewan ternak di sejumlah titik rawan, termasuk kawasan KTC dan kawasan perumahan.

Penertiban dilakukan untuk menjaga ketertiban sekaligus keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

Kemudian muncul program Satpol PP Go To School.

Program ini membawa personel Satpol PP masuk ke lingkungan sekolah untuk memberikan edukasi terkait penerapan jam malam pelajar sebagaimana Perbup Nomor 51 Tahun 2014.

Pendekatannya bukan semata-mata menakut-nakuti pelajar dengan aturan.

Pesannya adalah membangun kesadaran.

Karena menurut perspektif kepemimpinan Syarifuddin, aturan akan jauh lebih kuat ketika masyarakat memahami alasan di balik aturan tersebut.

SATPOL PP YANG DATANG KETIKA MASYARAKAT MEMBUTUHKAN

Salah satu pendekatan yang menonjol adalah layanan pengantaran masyarakat pada malam hari.

Bagi sebagian orang, mungkin terlihat sederhana.

Tetapi bagi mereka yang membutuhkan bantuan pada malam hari, kehadiran personel Satpol PP bisa menjadi bentuk pelayanan yang sangat berarti.

Di sinilah Syarifuddin mencoba menggeser persepsi tentang Satpol PP.

Bukan hanya aparat yang datang ketika ada pelanggaran.

Tetapi juga petugas yang hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan.

MENGHADAPI KENAKALAN REMAJA DENGAN PENDEKATAN MANUSIAWI

Persoalan kenakalan remaja juga menjadi perhatian.

Begitu pula persoalan prostitusi terselubung yang membutuhkan penanganan secara hati-hati, terukur, dan sesuai ketentuan.

Pendekatan persuasif menjadi salah satu pilihan.

Bukan berarti lunak terhadap pelanggaran.

Justru sebaliknya.

Ketegasan tetap berjalan, tetapi manusia yang berada di balik persoalan tidak boleh dilupakan.

Karena bagi seorang pemimpin yang pernah menjadi guru, setiap persoalan manusia selalu memiliki akar.

Dan akar itu harus dipahami sebelum sebuah tindakan diambil.

SOLIDITAS, LOYALITAS, PROFESIONALISME

Memimpin Satpol PP berarti memimpin ratusan personel dengan karakter dan latar belakang yang beragam.

Karena itu, membangun organisasi tidak cukup hanya dengan instruksi.

Diperlukan keteladanan.

Syarifuddin mendorong tiga nilai utama:

Soliditas. Loyalitas. Profesionalisme.

Soliditas diperlukan agar organisasi tidak mudah terpecah.

Loyalitas diperlukan agar setiap personel memahami tugas dan tanggung jawabnya.

Profesionalisme diperlukan agar setiap tindakan tetap berada dalam koridor aturan.

Tiga nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun wajah Satpol PP yang lebih kuat sekaligus lebih humanis.

DI BALIK SERAGAM, ADA SEORANG AYAH

Di balik jabatan dan seragam kedinasan, Syarifuddin tetap seorang suami dan ayah.

Ia menikah dengan Mardiati Mahmud.

Dari pernikahan tersebut lahir putri tercinta, Yunita Syarmawati Syarif, S.STP.

Yunita kemudian berkeluarga dengan Fendy Irawan, S.Kom.

Keluarga kecil itu kini semakin lengkap dengan kehadiran dua cucu: Muhammad Al’ Farrazi Hikmahtiar dan Muhammad Fiqri Rabbani.

Bagi Syarifuddin, keluarga menjadi ruang untuk kembali menjadi dirinya sendiri.

Di tengah rutinitas pekerjaan, rapat, persoalan ketertiban, dan tuntutan pelayanan publik, keluarga menjadi sumber kebahagiaan.

Ia dikenal sebagai sosok yang humoris, tetapi tetap memiliki prinsip.

Karakter yang mungkin terlihat sederhana, namun justru menjadi keseimbangan dalam kehidupannya.

“KASAT ELEGAN”, SEBUAH KARAKTER

Julukan “Kasat Elegan” akhirnya bukan sekadar label.

Ia lahir dari perjalanan panjang.

Dari seorang guru yang mendidik.

Dari seorang penilik yang turun ke masyarakat.

Dari sekretaris camat yang belajar mengelola pemerintahan.

Dari camat yang memimpin wilayah.

Dari staf ahli yang memahami hukum dan pemerintahan.

Hingga menjadi Kasat Pol PP yang berada di garis depan menjaga ketertiban.

Semua pengalaman itu bertemu dalam satu sosok.

Tegas, tetapi tidak kasar.

Berwibawa, tetapi tidak berjarak.

Disiplin, tetapi tetap humanis.

Itulah wajah kepemimpinan yang ingin ia bangun.

DARI GURU HINGGA KASAT: SATU JALAN, SATU PENGABDIAN

Jika perjalanan hidup Syarifuddin diringkas dalam satu kalimat, maka jawabannya sederhana:

Ia berpindah jabatan, tetapi tidak berpindah prinsip.

Dulu ia mendidik anak-anak di ruang kelas.

Kini ia mendidik organisasi agar lebih disiplin.

Dulu ia mengajarkan aturan kepada murid.

Kini ia memastikan aturan daerah dihormati.

Dulu ia berdiri di depan kelas.

Kini ia berdiri di depan ratusan personel.

Ruangnya berubah.

Seragamnya berubah.

Tanggung jawabnya semakin besar.

Tetapi satu hal tetap sama: pengabdian.

Dan mungkin itulah alasan mengapa sosok H. Syarifuddin tidak hanya dikenal karena jabatan yang pernah diembannya, tetapi karena cara ia menjalankan jabatan tersebut.

Redaktur : Zulkifli Bujir (Pemimpin Umum Hariansumbawa.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *