Jangan Sampai Kebaikan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

banner 120x600

Catatan Redaksi Hariansumbawa.com

Pada akhirnya, setiap orang akan kembali pada dirinya sendiri.

Kalimat itu mungkin terdengar getir. Bahkan, bagi sebagian orang, bisa dianggap sebagai bentuk egoisme. Namun, semakin panjang perjalanan hidup, semakin banyak pula pengalaman yang mengajarkan bahwa kita tidak mungkin terus-menerus menjadi penyelamat bagi semua orang. Ada saatnya kita harus berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: sampai sejauh mana kita harus membantu orang lain tanpa kehilangan diri sendiri?

Pertanyaan itu menjadi penting karena dalam kehidupan, kita sering kali memberikan lebih banyak daripada yang seharusnya. Kita menjaga seseorang sepenuh hati. Membantu ketika mereka kesulitan. Bahkan, tidak jarang kita mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan apa yang kita miliki demi kepentingan orang lain.

Pada saat itu, kita mungkin tidak pernah berpikir tentang balasan. Kita membantu karena memang ingin membantu. Kita berkorban karena merasa orang tersebut layak diperjuangkan. Tidak ada niat untuk menghitung jasa, apalagi mencatat setiap kebaikan yang pernah diberikan.

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita bayangkan.

Orang-orang yang pernah kita jaga belum tentu selamanya berada di sisi kita. Mereka yang pernah kita bantu belum tentu mengingat setiap pertolongan. Bahkan, orang yang pernah kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh bisa saja menjadi orang pertama yang pergi ketika keadaan berbalik.

Di titik inilah kita perlu memahami bahwa persoalannya bukan tentang menagih kebaikan.

Bukan pula tentang menghitung pengorbanan. Apalagi menyesali pertolongan yang pernah diberikan. Kebaikan tetaplah kebaikan. Pengorbanan tetaplah bagian dari pilihan hidup yang pernah kita ambil.

Yang perlu dipelajari adalah batasnya.

Sebab, masing-masing orang memiliki kehidupan yang harus diperjuangkan. Setiap orang memiliki beban, kepentingan, dan tanggung jawab yang pada akhirnya harus dipikul sendiri. Karena itu, tidak adil jika kita menuntut orang lain untuk selalu berada di sisi kita hanya karena dahulu kita pernah berada di sisi mereka.

Kesadaran semacam itu biasanya tidak datang dari nasihat.

Ia datang dari pengalaman.

Karena itu, sesekali kita perlu menepi. Berhenti dari hiruk-pikuk kehidupan. Merenung lebih panjang. Melihat kembali perjalanan yang pernah dilalui. Mengingat peristiwa-peristiwa yang dahulu terasa berat, tetapi ternyata meninggalkan pelajaran penting.

Dari sana, mungkin kita akan menemukan jejak yang selama ini tidak kita sadari: ada banyak keadaan ketika kita seharusnya memilih untuk menjaga diri sendiri.

Pengalaman memang guru yang tidak pandai berbohong.

Ia memperlihatkan kepada kita bahwa membantu orang lain adalah perbuatan mulia. Tetapi pengalaman yang sama juga mengajarkan bahwa membantu tidak harus selalu berarti mengorbankan diri.

Ada perbedaan antara memberikan bantuan dan menghancurkan diri demi bantuan itu.

Kita bisa mengulurkan tangan tanpa harus kehilangan pijakan. Kita bisa membantu seseorang berdiri tanpa harus ikut terjatuh. Kita bisa peduli kepada kehidupan orang lain tanpa mengabaikan kehidupan sendiri.

Sebab ketika kekuatan kita sudah habis, ketika kita tidak lagi memiliki apa-apa, orang lain belum tentu datang menyelamatkan.

Realitas itulah yang kadang terasa pahit, tetapi perlu diterima.

Bantuan yang pernah kita berikan mungkin tidak lagi diingat. Pengorbanan yang dahulu kita lakukan bisa saja tidak meninggalkan bekas apa pun dalam ingatan orang lain. Semua itu dapat hilang begitu saja, seperti embun yang perlahan lenyap diterpa terik matahari.

Tetapi sekali lagi, bukan berarti kita harus berhenti berbuat baik.

Justru sebaliknya. Membantu orang lain tetaplah sesuatu yang mulia. Menolong ketika mampu adalah bentuk kemanusiaan. Berbagi ketika memiliki kesempatan adalah bagian dari kehidupan yang patut dijaga.

Hanya saja, kebaikan juga membutuhkan batas.

Jangan membantu dengan cara yang membuat diri sendiri kehilangan masa depan. Jangan berkorban sampai kehidupan sendiri tidak lagi memiliki ruang untuk tumbuh. Dan jangan merasa bersalah ketika pada suatu titik kita memilih menyelamatkan diri sendiri.

Memilih diri sendiri dalam keadaan tertentu bukan berarti menjadi manusia egois.

Itu adalah bentuk kesadaran bahwa diri kita juga memiliki nilai. Kita juga memiliki kehidupan yang harus dijaga. Kita juga mempunyai mimpi, keluarga, masa depan, dan tanggung jawab yang tidak boleh begitu saja dikorbankan.

Maka, barangkali yang perlu kita pelajari bukanlah bagaimana berhenti membantu orang lain.

Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana membantu tanpa kehilangan diri sendiri.

Berbuat baiklah ketika mampu. Ulurkan tangan ketika memiliki kekuatan. Bantu mereka yang membutuhkan ketika keadaan memungkinkan.

Tetapi ketika kemampuan kita terbatas, tidak perlu memaksakan diri. Ketika tenaga kita habis, tidak perlu merasa bersalah untuk beristirahat. Dan ketika pengorbanan mulai menghancurkan kehidupan sendiri, tidak ada salahnya untuk berkata: cukup.

Sebab kita tidak diciptakan untuk menjadi penyelamat semua orang. Ada kehidupan yang juga harus kita selamatkan. Dan kehidupan itu adalah kehidupan kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *