Cegah Gagal Ginjal Sejak Dini, Dinkes KSB Perkuat Layanan Primer

banner 120x600

Kita ingin pelayanan kesehatan tidak hanya mengobati ketika sudah sakit, tetapi lebih kuat mencegah dan mendeteksi risiko gagal ginjal sejak dini melalui layanan primer.”_ Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, dr. Carlof Sitompul, M.M.R.S., M.Q.M

Sumbawa Barat | Ancaman gagal ginjal di Kabupaten Sumbawa Barat tak cukup dijawab dengan menambah fasilitas cuci darah di rumah sakit. Dinas Kesehatan (Dinkes) KSB memilih memperkuat benteng pertahanan dari hulu: mencegah, mendeteksi, dan menangani faktor risiko sejak masyarakat masih berada di layanan kesehatan primer.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, dr. Carlof Sitompul, M.M.R.S., M.Q.M mengatakan layanan hemodialisis tetap dibutuhkan. Namun, strategi kesehatan daerah tidak boleh berhenti pada penanganan pasien yang sudah memasuki tahap lanjut.

“Layanan cuci darah di rumah sakit memang penting. Namun, fokus kita bukan hanya menambah mesin cuci darah, melainkan mencegah masyarakat mengalami gagal ginjal tahap lanjut,” tegasnya, Kamis (3/9/2026).

Menurut Carlof, gagal ginjal dapat dipicu berbagai faktor risiko yang sebenarnya bisa dikendalikan sejak awal. Hipertensi dan diabetes melitus menjadi perhatian utama, disusul obesitas, kebiasaan merokok, pola konsumsi tinggi garam dan gula, hingga penggunaan obat-obatan yang tidak terukur.

Karena itu, Dinkes KSB mendorong Puskesmas tidak hanya menunggu masyarakat datang ketika sudah mengalami keluhan. “Kita harus menemukan faktor risikonya lebih awal dan melakukan pemantauan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Penguatan deteksi dini dilakukan melalui Cek Kesehatan Gratis, pemeriksaan tekanan darah serta pemantauan terhadap warga yang masuk kelompok berisiko. Carlof menjelaskan, langkah tersebut penting agar gangguan kesehatan dapat diketahui lebih cepat sehingga intervensi dan pengobatan bisa segera dilakukan sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Strategi tersebut diperkuat melalui penerapan Sistem Integrasi dan Akselerasi Gerakan Pelayanan Primer Berbasis Risiko (SIAGA PRIMA). Program ini menempatkan layanan primer sebagai garda terdepan dengan pendekatan berdasarkan tingkat risiko kesehatan masyarakat, bukan semata-mata berdasarkan kunjungan ketika sudah sakit.

“Masyarakat berisiko tinggi tidak boleh sekadar menunggu berobat. Puskesmas, jejaring layanan kesehatan, dan Tim Reaksi Cepat Ambulans harus memantau dan menindaklanjuti mereka secara aktif,” kata Carlof.

Menurut dia, pola pelayanan yang lebih aktif tersebut diharapkan mampu mempersempit peluang penyakit berkembang tanpa terpantau.

Carlof menambahkan, edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dari pencegahan. Perubahan pola hidup, pengendalian tekanan darah dan gula darah, serta penggunaan obat secara tepat perlu menjadi perhatian agar masyarakat tidak terlambat menyadari risiko gangguan ginjal.

“Kalau faktor risikonya bisa kita kendalikan sejak awal, maka peluang masyarakat untuk sampai pada gagal ginjal tahap lanjut bisa ditekan,” tandasnya.

Di sisi lain, keberadaan fasilitas hemodialisis tetap dipandang penting untuk memastikan pasien yang sudah membutuhkan terapi cuci darah tetap mendapatkan pelayanan.

Dinkes KSB kini menempatkan penguatan layanan primer sebagai investasi kesehatan jangka panjang. “Target kita bukan hanya mampu menangani pasien ketika sudah gagal ginjal, tetapi bagaimana kasus berat itu bisa dicegah sejak dari tingkat primer,” pungkas Carlof.

Dengan strategi tersebut, upaya menekan gagal ginjal di KSB diarahkan tidak sekadar memperbesar kapasitas pengobatan, tetapi membangun sistem pencegahan yang lebih aktif dari tingkat masyarakat hingga fasilitas kesehatan. (Admin01-Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *