“Melalui tiga klaster utama, KSB Maju Luar Biasa diarahkan untuk mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumbawa Barat.”
Taliwang, Hariansumbawa – Pembangunan Kabupaten Sumbawa Barat tidak lagi diarahkan sekadar mengejar banyaknya program. Pemerintah daerah mulai mendorong pola pembangunan yang menghubungkan potensi lokal dengan peluang ekonomi, investasi, pasar kerja, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Arah tersebut dikemas dalam gerakan KSB Maju Luar Biasa. Program ini menempatkan pengembangan potensi daerah sebagai fondasi untuk membangun kekuatan ekonomi baru yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Sumbawa Barat, Dedy Damhudy M. Khatim, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa KSB Maju Luar Biasa dijalankan melalui tiga klaster utama. Yakni klaster pariwisata, klaster pertanian-peternakan-perikanan, serta klaster industri.
“Ketiga klaster ini dikembangkan secara terpadu agar potensi yang dimiliki Sumbawa Barat tidak berhenti sebagai potensi, tetapi dapat memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Dedy melalui rilis resmi diterima media ini, Senin, 14 September 2026.
Pada klaster pariwisata, pemerintah mengembangkan dua pendekatan utama. Yakni pariwisata investasi dan pariwisata kerakyatan. Dua pendekatan tersebut diharapkan mampu membuka ruang yang lebih luas bagi investasi sekaligus memastikan masyarakat lokal mendapatkan manfaat langsung dari aktivitas pariwisata.
Menurut Dedy, pengembangan pariwisata kerakyatan menjadi bagian penting karena masyarakat harus ditempatkan sebagai salah satu pelaku utama dalam ekosistem ekonomi pariwisata. Potensi alam dan budaya daerah didorong agar dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi produktif.
Klaster kedua menyasar sektor pertanian, peternakan dan perikanan. Sejumlah program disiapkan, mulai penangkaran benih padi, agribisnis peternakan sapi hingga pengembangan budidaya perikanan.
“Orientasinya bukan hanya menghasilkan komoditas, tetapi bagaimana komoditas itu memiliki nilai tambah, memiliki pasar dan mampu menjadi bagian dari kekuatan ekonomi daerah,” kata Dedy.
Konsep tersebut kemudian disambungkan dengan klaster industri. Pemerintah mendorong pengembangan industri hilirisasi sehingga hasil pertanian, peternakan, perikanan dan hortikultura tidak langsung berhenti sebagai bahan mentah.
Produk lokal diarahkan melewati rantai produksi yang lebih panjang. Mulai dari pengolahan, pengemasan, pemasaran hingga dukungan logistik. Dengan begitu, nilai ekonomi yang tercipta diharapkan lebih banyak berputar di daerah.
Selain hilirisasi, klaster industri juga mencakup industri ketenagakerjaan. Fokusnya adalah menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja.
Dedy mengatakan penguatan tenaga kerja dilakukan melalui pelatihan vokasional, sertifikasi kompetensi, peningkatan sarana pelatihan hingga revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK). Langkah itu dinilai penting agar masyarakat lokal memiliki kemampuan yang relevan dengan perkembangan industri.
Di sisi lain, keberlanjutan program pembangunan juga membutuhkan dukungan fiskal. Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga ruang gerak pemerintah dalam menjalankan program prioritas.
Salah satu sumber penerimaan tersebut berasal dari Dana Kompensasi Penggunaan Tenaga Kerja Asing (DKPTKA). Dalam proses perpanjangan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) ke Kementerian Ketenagakerjaan, pembayaran DKPTKA menjadi bagian dari kelengkapan administrasi dan kontribusinya masuk ke kas daerah.
“Pada 2025 tercatat ada 224 tenaga kerja asing yang melakukan perpanjangan RPTKA dengan kontribusi sekitar Rp4,6 miliar,” terang Dedy.
Memasuki 2026, penerimaan dari sektor tersebut masih menunjukkan perkembangan positif dan berpotensi bertambah seiring dengan proses perpanjangan RPTKA. Bagi pemerintah daerah, kontribusi tersebut menjadi salah satu bagian dari kekuatan fiskal untuk mendukung pembangunan.
Pada akhirnya, KSB Maju Luar Biasa diarahkan bukan hanya menjadi slogan pembangunan. Tiga klaster yang dibangun—pariwisata, pertanian-peternakan-perikanan, dan industri—diharapkan saling terhubung, menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan ekonomi, meningkatkan kualitas tenaga kerja dan membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Sumbawa Barat. (Admin01-Hs)













