Foto. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat dr. Carlof, M.M.R.S., M.Q.M
Taliwang, Hariansumbawa | Kehamilan sehat tidak cukup disiapkan ketika seorang perempuan sudah dinyatakan hamil. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) justru mendorong persiapan dilakukan jauh lebih awal melalui penguatan pelayanan Skrining Layak Hamil (SLH) bagi calon pengantin dan pasangan usia subur.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Pertemuan Penguatan Pelayanan Skrining Layak Hamil (SLH) Tingkat Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2026 yang digelar di Aula Kedai Sawah Taliwang. Forum ini diarahkan untuk memperkuat deteksi dini berbagai faktor risiko kesehatan sebelum kehamilan sekaligus memastikan adanya tindak lanjut setelah skrining.
Kepala Dinas Kesehatan KSB dr. Carlof, M.M.R.S., M.Q.M., bersama Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Sulastri, SKM., membuka kegiatan tersebut. Pertemuan melibatkan berbagai unsur lintas sektor dan lintas program, mulai dari Dukcapil, Dinas P2KBP3A, Kementerian Agama, KUA, BNN, Universitas Cordova, RSUD Asy-Syifa’, TP PKK, BPJS Kesehatan, Ikatan Bidan Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia hingga jajaran UPTD Puskesmas.
Carlof menegaskan, skrining sebelum kehamilan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kondisi kesehatan calon ibu maupun pasangan usia subur. Menurutnya, pemeriksaan sejak awal memungkinkan faktor risiko diketahui lebih cepat sehingga langkah penanganan dapat dilakukan sebelum memasuki masa kehamilan.
“Persiapan kehamilan perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan. Dengan skrining yang dilakukan lebih awal, faktor risiko dapat diketahui dan ditindaklanjuti,” tegas Carlof dalam arahannya, Senin, 21 September 2026.
Ia menjelaskan, hasil skrining tidak boleh berhenti sebatas data pemeriksaan. Setiap temuan yang mengindikasikan risiko harus menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya, baik berupa pemeriksaan lanjutan, konseling, intervensi maupun rujukan sesuai kebutuhan.
Carlof juga menekankan bahwa pelayanan SLH tidak bisa dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Ia menyampaikan bahwa persiapan kehamilan berkaitan dengan kependudukan, keluarga, sosial, keagamaan hingga dukungan masyarakat sehingga membutuhkan koordinasi yang konsisten antarinstansi.
“Pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan sendiri karena persiapan kehamilan membutuhkan dukungan lintas sektor dan lintas program,” katanya.
Dalam forum tersebut, peserta mendapat penguatan materi mengenai Kebijakan Pelayanan Skrining Layak Hamil yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan KSB. Materi tersebut membahas arah kebijakan sekaligus pelaksanaan SLH agar dapat diterapkan secara optimal pada fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa Barat menyampaikan materi mengenai peran TP PKK dalam mendukung Skrining Layak Hamil. Keterlibatan organisasi tersebut dinilai penting karena edukasi dan pendampingan keluarga dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai persiapan kehamilan.
Para peserta kemudian berdiskusi untuk menyusun kesepakatan tindak lanjut penguatan pelayanan SLH di KSB. Dinas Kesehatan mendorong agar hasil skrining di fasilitas kesehatan dapat terhubung dengan pelayanan lanjutan sehingga calon pengantin dan pasangan usia subur memperoleh pendampingan sesuai kondisi masing-masing.
“Setiap hasil skrining harus menjadi dasar tindak lanjut, terutama apabila ditemukan faktor risiko yang membutuhkan pemeriksaan atau intervensi lebih lanjut,” ujar Carlof.
Melalui penguatan SLH, Dinkes KSB menargetkan persiapan kehamilan tidak lagi dipandang sebagai urusan ketika kehamilan telah terjadi. Upaya deteksi dini sejak sebelum hamil diharapkan dapat membantu meningkatkan kesiapan kesehatan calon ibu dan pasangan sekaligus memperkuat fondasi kesehatan ibu dan anak di daerah.
“Kita ingin pelayanan SLH benar-benar berjalan sampai pada tindak lanjut dan pendampingan, bukan sekadar pemeriksaan,” pungkas Carlof. (Admin01-Hs)













