Tim dewan juri Kementerian Pariwisata bersama jajaran Pemkab Lobar dan Pemprov NTB saat turun melakukan visitasi dan penilaian disambut tarian oleh remaja Desa Sesaot. (IST/HARIAN SUMBAWA)
GIRI MENANG, Hariansumbawa – Desa Wisata Sesaot, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, menembus 15 besar Wonderful Indonesia Award (WIA) 2026. Bukan sekadar prestasi di panggung pariwisata nasional, capaian ini menjadi pengakuan atas upaya masyarakat menjaga alam, merawat tradisi, dan membangun desa berbasis kearifan lokal.
Keseriusan Sesaot mempertahankan posisinya dibuktikan dengan visitasi dan penilaian langsung tim dewan juri Kementerian Pariwisata bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Sesaot menunjukkan bahwa kekuatan desa wisata tidak hanya terletak pada panorama, tetapi juga pada komitmen masyarakatnya.
Sejak ditetapkan sebagai kawasan wisata pada 2022, Sesaot mengembangkan potensi alam sebagai daya tarik utama. Hutan yang lebat, sungai jernih, mata air yang terus mengalir, hingga Air Terjun Antong Balu menjadi kekayaan yang menopang aktivitas pariwisata sekaligus kehidupan warga.
Namun, Sesaot tidak berhenti menjual keindahan alam. Desa ini berupaya menyatukan pariwisata dengan nilai religius dan adat Sasak. Bagi masyarakat setempat, menjaga kelestarian lingkungan bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kepala Desa Sesaot, Muliyadi, menegaskan bahwa menjaga hutan, mata air, dan sungai merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Tujuan kami bukan sekadar kekayaan, melainkan mewujudkan desa yang mandiri, sejahtera, penuh berkah, dan lestari untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Komitmen itu juga diterapkan dalam tata kelola pemerintahan desa. Pemerintah Desa Sesaot mengedepankan transparansi, termasuk keterbukaan informasi mengenai anggaran dan retribusi wisata. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan pengembangan pariwisata memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Agus Gunawan, mengapresiasi kekompakan warga dalam mendukung pengembangan desa wisata. Ia menggambarkan semangat masyarakat Sesaot dengan perumpamaan: ketika pemerintah meminta satu, warga memberikan sepuluh. Gambaran itu mencerminkan kuatnya partisipasi masyarakat dalam menggerakkan potensi desa.
Kolaborasi tersebut melibatkan enam dusun, petani, pemuda, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sesaot yang dipimpin Aryo Wiranangun. Pengembangan layanan juga mulai menyentuh sistem pembayaran digital sebagai bagian dari adaptasi terhadap kebutuhan wisatawan.
Sementara itu, perwakilan dewan juri Kementerian Pariwisata, Husein Hutagalung, menekankan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan pariwisata, bukan sekadar penonton.
Ia mendorong Sesaot berkembang dari sekadar tourist attraction atau daya tarik wisata menjadi learning destination, yakni destinasi yang menawarkan pengalaman belajar bagi pengunjung.
Melalui pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati panorama, tetapi juga belajar tentang pelestarian lingkungan, adat istiadat, dan kearifan lokal yang dijaga turun-temurun.
Masuknya Sesaot dalam 15 besar Wonderful Indonesia Award 2026 pun menjadi momentum untuk memperkuat model pariwisata berkelanjutan—ketika alam tetap terjaga, budaya hidup, dan masyarakat menjadi penerima manfaat utama. (Admin02-Hs)













