Foto. Kondisi Lahan Pertanian Kelompok Tani Rope Kemang Desa Sapugara Bree Pasca di Serang Wereng
Sumbawa Barat | Serangan hama wereng yang melanda wilayah Sapugara Bree kini berubah menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan lokal. Sedikitnya 20 kelompok tani terdampak, namun hingga kini penanganan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dinilai belum terlihat nyata di lapangan.
Wereng menyerang tanaman padi sejak fase awal tanam hingga menjelang panen. Akibatnya, banyak sawah yang berubah menghitam, gabah menjadi hampa, dan hasil panen tidak memiliki nilai jual. Petani terpaksa menelan kerugian setelah berbulan-bulan bekerja dan mengeluarkan biaya besar.
Ironisnya, sebagian kelompok tani sudah melakukan tanam ulang setelah gagal panen pertama. Namun tanaman yang baru ditanam kembali justru diserang hama yang sama. Situasi ini memicu dugaan bahwa wabah wereng tidak ditangani secara sistematis dan serempak.
“Kami sudah tanam ulang, tapi tetap diserang. Tanam ulang lagi, kena lagi. Kalau seperti ini, sampai kapan pun tidak akan selesai,” jelas Sukardi Baso M Zain Ketua Kelompok Tani Rope Kemang Desa Sapugara Bree kepada media ini via WhatsApp, Rabu, 14 Desember 2026.
Sukardi menyebut, tanpa gerakan pengendalian massal, wereng akan terus berpindah dari satu lahan ke lahan lain. Penyemprotan mandiri tidak efektif karena tidak didukung dengan bantuan obat dan pendampingan teknis dari pemerintah.

Di sisi lain, tegasnya, biaya produksi terus membengkak. Ongkos bajak, biaya tanam, dan pembelian pestisida sudah menguras modal petani. Belum lagi serangan burung pipit yang ikut memperparah kerusakan tanaman.
Namun di tengah kondisi darurat ini, lanjutnya, Dinas Pertanian KSB dinilai belum hadir secara nyata. Tidak ada program penyemprotan serempak, tidak ada distribusi obat darurat, dan tidak ada langkah teknis yang dirasakan langsung oleh petani.
Petani lainnya menilai, pembiaran ini berpotensi membuat wabah wereng semakin meluas ke wilayah lain. Jika tidak segera dihentikan, musim tanam berikutnya pun terancam gagal sebelum dimulai.
“Kami tidak minta yang muluk-muluk. Kami hanya minta pemerintah turun tangan, kasih obat, dan atur penyemprotan serempak. Kalau tidak, kami yang terus menanggung kerugian,” ujar Bujir DM.
Kondisi ini menempatkan petani dalam posisi paling lemah. Mereka sudah kehilangan hasil panen, modal habis, sementara ancaman gagal tanam kembali semakin nyata.
Situasi Sapugara Bree kini menjadi ujian serius bagi Dinas Pertanian KSB. Publik menunggu, apakah pemerintah daerah benar-benar hadir melindungi petani, atau justru membiarkan mereka berjuang sendiri menghadapi serangan hama yang kian ganas. (Admin01-Hs)













