Foto. Direktur RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat, Andy Suhaeri, S.ST., M.M.Inov (Hariansumbawa/Ist)
Taliwang, Hariansumbawa – RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat mulai membedah data rujukan pasien sebagai dasar pengembangan layanan kesehatan. Pemetaan tersebut dilakukan untuk mengetahui jenis layanan spesialis yang paling mendesak diperkuat, sehingga kasus-kasus yang selama ini harus dirujuk keluar daerah bisa ditangani di Sumbawa Barat.
Data yang dievaluasi berasal dari rekapitulasi pasien yang selama ini menjalani rujukan ke rumah sakit lain. Dari data tersebut, manajemen rumah sakit memetakan pola penyakit sekaligus mengidentifikasi kebutuhan dokter spesialis yang belum tersedia.
Direktur RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat, Andy Suhaeri, S.ST., M.M.Inov., mengatakan data rujukan menjadi salah satu pijakan penting dalam menentukan arah pengembangan layanan rumah sakit.
“Kalau terkait rujukan keluar, memang angkanya itu masih di kisaran 3 sampai 5 persen dari jumlah kunjungan rumah sakit,” kata Andy saat ditemui awak media, Selasa, 15 September 2026.
Menurut Andy, persentase tersebut masih berada dalam kondisi terkendali. Meski demikian, angka rujukan tetap menjadi perhatian karena setiap rujukan keluar menunjukkan adanya jenis layanan yang belum dapat ditangani secara optimal di rumah sakit daerah.
Ia menjelaskan, pasien yang dirujuk umumnya membutuhkan dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) dengan kompetensi spesialis tertentu yang belum tersedia di RSUD Asy-Syifa. Beberapa kasus yang masih menjadi sumber rujukan antara lain patah tulang, urologi, dan kanker.
“Pasien-pasien yang dirujuk itu adalah pasien yang tidak punya spesialis di sini. Misalnya kasus patah tulang, kasus urologi, kasus kanker. Itu semuanya tidak ada DPJP-nya di sini,” ujarnya.
Evaluasi kemudian tidak berhenti pada menghitung jumlah pasien yang dirujuk. Manajemen juga mengelompokkan rujukan berdasarkan karakter kasus, termasuk membedakan rujukan emergency dan non-emergency.
Andy menyebut klasifikasi tersebut diperlukan agar penguatan layanan tidak dilakukan berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan kebutuhan riil pasien. Dengan demikian, dokter spesialis yang didatangkan nantinya memiliki kontribusi langsung terhadap pengurangan angka rujukan.
“Nah, ini menjadi perhatian kami dari angka-angka rujukan selama ini, baik rujukan emergency ataupun non-emergency,” paparnya.
Hasil pemetaan itu akan menjadi bahan bagi manajemen untuk menentukan skala prioritas pengembangan layanan pada tahun berikutnya. Jenis spesialis yang paling banyak dibutuhkan dan paling sering berkaitan dengan rujukan akan menjadi pertimbangan utama.
Andy menegaskan, pengembangan layanan tidak sekadar mengejar bertambahnya jumlah dokter spesialis. Rumah sakit ingin memastikan setiap penambahan layanan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Sumbawa Barat.
“Kita akan memprioritaskan kira-kira tahun depan itu layanan mana saja yang sudah harus ada spesialisnya,” pungkasnya.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkecil kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan ke luar daerah. Selain memangkas beban perjalanan pasien, penguatan spesialis juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas RSUD Asy-Syifa sebagai rumah sakit rujukan di tingkat daerah.
Manajemen RSUD Asy-Syifa juga berharap kelengkapan layanan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. Semakin banyak kasus yang mampu ditangani di dalam daerah, semakin kecil pula ketergantungan pasien terhadap rumah sakit di luar Sumbawa Barat.
Pada akhirnya, data rujukan menjadi semacam peta jalan bagi RSUD Asy-Syifa. Bukan sekadar menghitung berapa banyak pasien yang keluar, tetapi membaca penyakit apa yang paling sering membutuhkan layanan lanjutan dan spesialis mana yang paling dibutuhkan untuk hadir di rumah sakit tersebut. (Admin01-Hs)













