Antisipasi Kemarau, Petani Sumbawa Diminta Cermat Atur Pola Tanam

banner 120x600

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ni Wayan Rusmawati

Sumbawa Besar – Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa mengimbau para petani agar lebih bijak dan cermat dalam menentukan pola tanam menjelang musim tanam kemarau (MTK) I tahun 2026.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ni Wayan Rusmawati, mengatakan langkah ini penting guna meminimalisir risiko gagal panen akibat keterbatasan air.

“Memasuki musim tanam kemarau I, kami meminta petani agar benar-benar memperhatikan kondisi lapangan, terutama ketersediaan air sebelum menentukan jenis tanaman,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada musim kemarau I, lahan basah umumnya ditanami padi, jagung, dan bawang merah. Sementara itu, lahan kering lebih cocok untuk komoditas seperti kacang hijau, wijen, sayuran, dan berbagai jenis palawija.

Namun demikian, kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi petani dalam menentukan waktu dan jenis tanam yang tepat.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian bersama Dinas Pertanian daerah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis.

Di antaranya adalah pemberian bantuan berupa pembangunan sumur bor, baik sumur dalam maupun dangkal, serta pendampingan intensif kepada petani di lapangan.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat infrastruktur pendukung seperti pompanisasi dan pipanisasi guna memastikan distribusi air tetap tersedia di wilayah terdampak.

“Fasilitas ini akan digunakan untuk mengalirkan air dari sumber terdekat, seperti sungai dan mata air, agar kebutuhan irigasi tetap terpenuhi,” jelasnya.

Upaya lain yang dilakukan yakni pembangunan bendungan serta optimalisasi sumber air yang ada di wilayah rawan kekeringan.

Ni Wayan menekankan bahwa keberhasilan menghadapi musim kemarau tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif petani dan kelompok tani. Ia mengajak seluruh pihak untuk memperkuat koordinasi dan gotong royong dalam menghadapi potensi gagal panen.

Selain itu, petani juga diminta untuk rutin memantau informasi cuaca dari BMKG serta mengikuti arahan penyuluh pertanian di masing-masing wilayah.
“Dengan langkah bersama dan perencanaan yang matang, kita harapkan risiko gagal panen bisa ditekan,” pungkasnya. (Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *