Oleh: Zulkifli Bujir, Pimpinan Redaksi Media Harian Sumbawa
Hariansumbawa.com – Dalam praktik pemerintahan daerah, tidak semua program unggulan lahir dari keberanian mengambil keputusan strategis. Banyak kebijakan berhenti pada slogan atau sekadar memenuhi janji politik. Namun di Kabupaten Sumbawa Barat, Kartu KSB Maju hadir sebagai contoh kebijakan yang layak dibaca lebih jauh sebagai bentuk kesungguhan pengabdian seorang kepala daerah kepada rakyatnya.
Sebagai penggagas Kartu KSB Maju, Bupati Amar Nurmansyah mengambil langkah yang tidak sederhana. Ia memilih menghadirkan program berbasis integrasi layanan dan keberpihakan anggaran, sebuah pilihan yang mengandung risiko politik sekaligus tantangan teknokratis. Risiko politik karena program ini langsung menyentuh harapan masyarakat, dan tantangan teknokratis karena menuntut ketepatan data, konsistensi anggaran, serta pengawasan yang ketat.
Dari sisi anggaran, Kartu KSB Maju menunjukkan arah kebijakan yang jelas: APBD harus bekerja langsung untuk rakyat. Pada layanan Maju Pendidikan, realisasi anggaran mencapai Rp 6,6 miliar hingga Rp 8,7 miliar, dengan lebih dari 12 ribu penerima manfaat. Ini bukan angka kecil bagi kabupaten, dan mencerminkan keberanian pemerintah daerah mengalihkan belanja ke sektor yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.
Namun, anggaran besar saja tidak cukup. Efektivitas program menjadi kunci keberhasilan sesungguhnya. Kartu KSB Maju dirancang untuk menghindari pola bantuan yang tumpang tindih melalui integrasi data lintas sektor. Meski demikian, fakta bahwa dari target sekitar 51 ribu kepala keluarga, baru sekitar 23 ribu KK yang terjangkau, menunjukkan bahwa program ini masih berada dalam proses pematangan. Di titik ini, kesungguhan pengabdian diuji bukan pada niat awal, tetapi pada konsistensi memperbaiki pelaksanaan.
Dari sisi dampak sosial, Kartu KSB Maju mulai menghadirkan perubahan yang dirasakan masyarakat. Bantuan pendidikan mengurangi risiko putus sekolah, akses layanan kesehatan menjadi lebih mudah, dan perlindungan sosial memberi rasa aman bagi kelompok rentan. Tingkat kepuasan publik sekitar 72,9 persen menjadi indikator awal bahwa kebijakan ini menyentuh kebutuhan nyata warga.
Namun, pengabdian kepada rakyat tidak berhenti pada angka kepuasan. Tantangan terbesar Amar Nurmansyah sebagai penggagas program ini adalah memastikan Kartu KSB Maju tidak menjadi kebijakan sesaat atau personalistik. Program ini harus dikawal agar menjadi sistem pelayanan publik yang berkelanjutan, melampaui satu periode kepemimpinan dan tetap relevan di masa depan.
Dalam konteks inilah, Kartu KSB Maju layak dipandang sebagai cermin kesungguhan kepemimpinan Amar Nurmansyah. Bukan karena program ini sempurna, melainkan karena ada keberanian mengalokasikan anggaran untuk rakyat, membuka ruang evaluasi, dan menempatkan pelayanan publik sebagai inti pengabdian.
Jika konsistensi kebijakan, transparansi anggaran, dan pengawasan publik terus diperkuat, maka Kartu KSB Maju tidak hanya akan dikenang sebagai program unggulan, tetapi sebagai warisan kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat Sumbawa Barat.













