Belajar di Lantai di Tengah Kota, Dewan Pendidikan Desak Pemda Selamatkan SDN Kanar

banner 120x600

Sumbawa Besar – Potret buram dunia pendidikan masih nyata di Kabupaten Sumbawa. Di tengah gencarnya program peningkatan mutu pendidikan, puluhan siswa SDN Kanar, Kecamatan Badas, justru dipaksa belajar dalam kondisi memprihatinkan. Sebagian harus duduk di lantai karena ruang kelas tanpa meja dan kursi, sementara keterbatasan ruang belajar memaksa siswa bergantian menggunakan kelas.

Kondisi yang dinilai tidak manusiawi itu memantik keprihatinan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumbawa yang mendesak pemerintah daerah segera turun tangan menyelamatkan sekolah tersebut.

Potret memprihatinkan itu terungkap saat Dewan Pendidikan Kabupaten Sumbawa melakukan inspeksi lapangan ke SDN Kanar, Rabu (5/8). Kunjungan dipimpin Ketua Dewan Pendidikan Jamhur Husain, SE, didampingi Sekretaris Zainuddin, SH, serta anggota Sanapiah, S.Pd, Jhon Kennedy, M.Pd, dan Sri Wahyu Hidayati, M.Pd.

Pemandangan pertama yang menyita perhatian rombongan adalah satu ruang kelas yang sama sekali tidak memiliki fasilitas meja dan kursi. Kondisi tersebut memaksa siswa kelas VI mengikuti pelajaran dengan duduk di lantai. Sementara di ruang kelas lain, keterbatasan kursi membuat dua siswa harus berbagi tempat duduk selama proses pembelajaran berlangsung.

Persoalan semakin kompleks karena jumlah ruang belajar tidak mampu menampung seluruh rombongan belajar. Akibatnya, sekolah menerapkan sistem penggunaan ruang secara bergantian. Saat satu kelas mengikuti pelajaran olahraga di luar ruangan, kelas yang kosong langsung digunakan rombongan belajar lain.

Sistem darurat tersebut membuat aktivitas belajar menjadi kurang efektif. Siswa harus memindahkan perlengkapan belajar secara bergantian, bahkan tidak jarang tas dan buku mereka terganggu karena ruang yang digunakan berpindah-pindah setiap pergantian mata pelajaran.

Kepala SDN Kanar, Abdul Latief, S.Pd, mengakui kondisi tersebut bukan persoalan baru. Berbagai usulan rehabilitasi dan penambahan fasilitas telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah, namun hingga kini belum juga terealisasi.

“Terpaksa guru dan siswa beradaptasi dengan kondisi yang ada agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun sebenarnya kami selalu waswas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, SDN Kanar saat ini memiliki 305 siswa yang terbagi dalam 12 rombongan belajar. Namun sekolah hanya memiliki 10 ruang kelas, itu pun sebagian sudah mengalami kerusakan sehingga tidak lagi memenuhi standar kenyamanan dan keamanan untuk proses belajar mengajar.

Keterbatasan ruang membuat pihak sekolah memanfaatkan mushala sebagai ruang belajar tambahan. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti kegiatan belajar, meski harus menggunakan fasilitas seadanya.

Menurut Abdul Latief, secara ideal sekolah hanya membuka 10 rombongan belajar sesuai kapasitas ruang yang tersedia. Namun pertimbangan sosial membuat sekolah tidak tega menolak calon peserta didik yang mendaftar setiap tahun.

“Banyak siswa beragama Hindu yang jika tidak diterima di sini harus bersekolah di tempat lain yang tidak menyediakan pelajaran agama Hindu. Mereka harus mencari pembelajaran agama ke Aula Suka Duka di Kota Sumbawa dan itu membutuhkan biaya. Karena alasan itu, kami tetap menerima mereka,” jelasnya.

Komposisi peserta didik di SDN Kanar mencerminkan keberagaman masyarakat sekitar. Dari total 305 siswa, sekitar 150 orang beragama Islam, sekitar 140 orang beragama Hindu, sedangkan sisanya beragama Kristen. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama Hindu, sekolah merekrut dua guru honorer yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah, sementara pembelajaran agama Kristen masih dilakukan di luar sekolah karena belum tersedia guru khusus.

Tak hanya ruang belajar yang menjadi persoalan. Kondisi pagar sekolah yang dibangun sejak tahun 1984 juga sudah mengalami kerusakan parah. Sebagian pagar telah keropos bahkan roboh, sehingga mengurangi aspek keamanan bagi lingkungan sekolah dan para peserta didik.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumbawa, Jamhur Husain, SE, menyebut kondisi yang ditemukan di SDN Kanar tidak boleh lagi dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak cukup hanya berbicara soal kurikulum dan proses belajar, tetapi juga harus ditopang sarana dan prasarana yang memadai.

“Kami sangat prihatin melihat kondisi SDN Kanar. Tidak semestinya masih ada siswa yang belajar di lantai dan ruang kelas yang harus dipakai bergantian setiap hari. Ini harus menjadi perhatian bersama agar anak-anak memperoleh haknya untuk belajar dengan aman dan nyaman,” tegas Jamhur.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui dinas terkait segera menjadikan SDN Kanar sebagai prioritas rehabilitasi, mulai dari pembangunan ruang kelas baru, perbaikan pagar sekolah, hingga pengadaan meja dan kursi. Sebab, ketika anak-anak masih dipaksa belajar di lantai dan berebut ruang kelas, yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan belajar, melainkan juga komitmen daerah dalam memenuhi hak dasar setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang bermartabat. (Admin02-Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *