Foto. Gambar Ilustrasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumbawa Barat
Oleh : Redaksi Harian Sumbawa
Hariansumbawa.com | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya hadir sebagai terobosan besar negara dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia sejak di bangku sekolah. Anak-anak mendapat makanan layak, sementara desa memperoleh manfaat ekonomi melalui rantai pasok pangan lokal. Itu tujuan awalnya. Namun di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), tujuan besar ini seperti patah di tengah jalan.
Tidak ada yang memungkiri bahwa MBG menciptakan lapangan kerja langsung. Ada koki, tenaga dapur, hingga petugas distribusi. Tetapi pekerjaan itu hanyalah lapisan paling atas dari potensi manfaat ekonomi yang sesungguhnya. Dampak terbesar mestinya hadir dari perputaran uang pada petani, peternak, dan nelayan lokal sebagai pemasok harian bahan pangan.
Faktanya, itu tidak terjadi. Bahkan jauh dari harapan. Pada tingkatan dapur, kebutuhan sayur, telur, ayam, ikan, dan daging tidak diserap dari desa sekitar. Para petani dan peternak KSB yang seharusnya berdiri di garis terdepan rantai pasok justru tidak tersentuh sama sekali.
Padahal Presiden dalam berbagai kesempatan menegaskan, satu dapur MBG idealnya melibatkan 10 hingga 20 pemasok lokal. Ini bukan angka asal sebut. Ini adalah bagian dari desain besar agar program ini memberi efek multiplikasi ekonomi yang luas: menggerakkan desa, membuka pasar baru, dan menumbuhkan ekonomi keluarga.
Namun desain itu tak terlihat jejaknya di KSB. Yang muncul justru pola distribusi pangan yang tertutup, tidak sehat, dan hanya memberi akses pada segelintir orang. Program besar yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi desa malah berubah menjadi mesin yang berputar di lingkaran kecil.
Dampak paling nyata terlihat dari minimnya keterlibatan petani dan peternak lokal. Mereka tidak mendapat kesempatan menjadi pemasok tetap, padahal kapasitas produksi ada dan semangat memenuhi kebutuhan program MBG sangat besar. Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan, menyaksikan ada pasar baru yang sayangnya tidak untuk mereka.
Inilah yang membuat manfaat MBG tidak pernah benar-benar meresap ke masyarakat bawah. Uang negara yang seharusnya berputar di desa malah berhenti di tangan pihak tertentu yang menguasai pembelian bahan pangan. Rantai pasok yang seharusnya terbuka berubah menjadi lorong gelap, dikendalikan oleh rente.
Rente pangan ini bukan cerita baru di banyak daerah. Namun ketika praktik serupa terjadi dalam program nasional berskala besar seperti MBG, dampaknya jauh lebih serius. Ia bukan hanya mencederai tujuan program, tetapi juga menghilangkan kesempatan masyarakat miskin untuk naik kelas.
Di KSB, peran yang dominan itu disinyalir berada di tangan ketua dapur SPPG. Penguasaan akses pembelian membuat distribusi tidak kompetitif. Mekanisme lelang kecil-kecilan yang semestinya dilakukan untuk memberi peluang bagi pemasok desa tak pernah berjalan. Semua terpusat pada satu pintu.
Pola seperti ini membuat efek ekonomi MBG menyempit drastis. Tidak ada gelombang multiplier yang menyentuh desa. Tidak ada peningkatan pendapatan keluarga. Tidak ada percepatan ekonomi lokal. Padahal esensi terbesar program ini justru berada di sana.
Editorial ini tidak bermaksud menihilkan kerja keras para pelaksana MBG di lapangan. Banyak tenaga dapur bekerja dengan disiplin tinggi untuk memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi setiap hari. Tetapi upaya di hilir tidak boleh menutupi persoalan besar di hulu.
Pemerintah daerah harus berani mengevaluasi pola distribusi MBG yang kini dikuasai oleh rente. Jika dibiarkan, program ini tidak lebih dari proyek besar yang hanya menguntungkan sekelompok kecil orang. Sementara masyarakat desa — yang seharusnya diangkat derajat ekonominya — justru terus tertinggal.
Solusi bukan perkara rumit. Buka akses pemasok. Libatkan kelompok tani, kelompok ternak, dan nelayan lokal. Buat daftar rekomendasi pemasok desa yang diverifikasi secara berkala. Lakukan rotasi pemasok. Dan yang paling penting, hilangkan monopoli pembelian bahan pangan di lingkup dapur MBG.
Jika pemerintah berani melakukan pembenahan, MBG bukan hanya memberi makan anak-anak, tetapi juga memberi makan harapan bagi ribuan keluarga di desa. Jika tidak, program ini hanya akan menjadi cerita besar yang gagal menyentuh akar persoalan kemiskinan. KSB harus memilih di jalur yang mana.













