Opini  

Jalan Panjang Cahyo Karyadi Prabowo dalam Merawat Eksistensi Pariwisata Sumbawa Barat

banner 120x600

Foto. Cahyo Karyadi Prabowo, Pelaku dan Pemerhati Bidang Pariwisata di Sumbawa Barat

Catatan : Redaksi Harian Sumbawa

Hariansumbawa.com | Pariwisata tidak tumbuh dari baliho dan slogan semata. Ia hidup karena ada individu dan komunitas yang memilih bertahan, bekerja senyap, dan konsisten menjaga denyutnya dari akar rumput. Di Sumbawa Barat, Cahyo Karyadi Prabowo menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pariwisata dirawat sebagai ikhtiar jangka panjang, bukan proyek musiman.

Melalui jalur sport tourism, khususnya selancar ombak, Cahyo bersama komunitasnya membaca potensi pesisir Sumbawa Barat dengan jernih. Ombak Jelenga, Yoyo, Sekongkang, hingga Maluk tidak hanya dipandang sebagai lanskap indah, tetapi sebagai aset ekonomi sekaligus identitas daerah yang bernilai strategis.

Di saat sebagian pihak masih berkutat pada wacana dan perencanaan di atas meja, komunitas lokal justru bergerak mengisi ruang kosong yang sering kali ditinggalkan negara. Inisiatif tumbuh dari bawah, berbasis pengetahuan lokal dan kebutuhan riil masyarakat pesisir.

Berbagai event surfing digelar secara konsisten. Bukan semata mengejar prestasi olahraga, melainkan menjadi pintu masuk promosi daerah. Dampaknya terasa langsung: wisatawan berdatangan, homestay terisi, UMKM bergerak, dan nama Sumbawa Barat beredar dari mulut ke mulut di kalangan peselancar nasional hingga mancanegara.

Inilah kerja nyata yang kerap luput dari sorotan—tanpa presentasi power point, tanpa seremoni berlebihan. Pariwisata dijalankan sebagai praktik hidup, bukan sekadar agenda tahunan.

Namun jalan ini tidak selalu lurus. Keterbatasan dukungan, minimnya keberpihakan anggaran, serta pendekatan pembangunan yang cenderung elitis masih menjadi rintangan klasik. Ironisnya, pariwisata berbasis komunitas yang paling berkelanjutan justru kerap diposisikan sebagai pelengkap, bukan fondasi.

Dalam konteks ini, suara kritis Cahyo terhadap berbagai pihak—termasuk korporasi besar dan pemangku kepentingan—patut dibaca sebagai alarm, bukan gangguan. Kritik tersebut lahir dari pengalaman lapangan, dari proses panjang mengelola potensi sekaligus menjaga ekosistem sosial di sekitarnya.

Pariwisata yang sehat tidak mungkin tumbuh tanpa kejujuran dan evaluasi terbuka. Menutup kritik sama artinya dengan menutup peluang perbaikan.

Lebih jauh, kiprah ini menyingkap satu kenyataan penting: pariwisata Sumbawa Barat sejatinya digerakkan oleh komunitas, bukan birokrasi. Pemerintah dan korporasi semestinya hadir sebagai fasilitator yang memperkuat inisiatif lokal, bukan sebagai aktor tunggal yang mengklaim keberhasilan.

Jika konsistensi seperti ini terus dibiarkan berjalan sendiri, daerah berisiko kehilangan generasi penggerak yang paling memahami karakter wilayahnya. Padahal, pembangunan pariwisata membutuhkan kesinambungan, bukan sekadar proyek dan seremoni.

Editorial ini hendak menegaskan satu hal: menjaga eksistensi pariwisata adalah kerja maraton, bukan sprint. Cahyo Karyadi Prabowo dan komunitasnya telah membuktikan bahwa ketekunan lokal mampu menjaga nyala itu tetap hidup. Pertanyaannya kini, apakah negara dan para pemangku kepentingan siap berlari bersama, atau terus berdiri di garis start sambil bertepuk tangan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *