Foto. Kabel JTR Bergelantungang di Masjid Agung Darussalam-KTC
Taliwang, Hariansumbawa | Kondisi kabel jaringan tegangan rendah (JTR) di kawasan Masjid Agung Darussalam yang berada di kompleks Kemutar Telu Center (KTC) Kota Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) kembali menuai sorotan.
Sejumlah kabel tampak bergelantungan dan sebagian lainnya tergeletak di permukaan tanah. Temuan ini dikhawatirkan menimbulkan risiko keselamatan bagi jamaah maupun warga yang beraktivitas di sekitar area masjid.
Aktivis Abu Bakar, atau yang akrab disapa Beko, menjadi salah satu pihak yang paling vokal menyoroti persoalan tersebut. Ia menilai Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) perlu turun tangan lebih serius untuk memastikan seluruh instalasi listrik di area publik itu aman dan tertata sesuai standar.
Beko mengatakan kabel-kabel tersebut bukan baru sehari dua hari terpasang sembarangan. Kondisinya sudah berlangsung lama, tanpa ada tindakan korektif yang memadai.
“Kalau dibiarkan seperti ini, yang rugi bukan hanya pemerintah. Yang paling berisiko adalah masyarakat yang datang beribadah,” ujar aktivis Beko, melalui unggahan video yang diposting baru baru ini, Kamis, 5 Februari 2026.
Menurutnya, posisi sebagian kabel yang tergeletak di tanah sangat rentan bersentuhan dengan genangan air saat hujan. Ia menyinggung kejadian sehari sebelumnya ketika hujan deras mengguyur Taliwang dan kabel-kabel tersebut tampak tergenang air. Kondisi itu memperbesar potensi korsleting maupun sengatan listrik.

Tidak hanya itu, Beko juga menyoroti kabel yang menggantung rendah di area yang sering dilalui warga. Beberapa titik disebutnya berada dekat jalur menuju WC Mandi Masjid Agung lantai 1, fasilitas yang hampir setiap hari digunakan masyarakat.
“Jamaah yang datang hanya ingin buang air kecil, tapi malah berisiko tersentuh kabel. Ini membahayakan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa masjid adalah tempat ibadah yang seharusnya bersih, aman, dan memberi kenyamanan bagi seluruh pengunjung. Jika instalasi listrik tidak ditangani dengan benar, situasi bisa berbalik menjadi ancaman keselamatan.
Menurutnya, perangkat listrik tidak boleh dianggap sepele, terlebih dalam ruang publik dengan aktivitas tinggi seperti masjid agung. “Bahaya listrik itu tidak kelihatan. Orang datang untuk sholat, bukan untuk mengambil risiko tersengat arus,” tambahnya.
Beko mendesak pemkab untuk melakukan audit menyeluruh terhadap instalasi jaringan tegangan rendah di seluruh kawasan KTC, khususnya yang terhubung dengan fasilitas publik. Ia menilai perbaikan tidak cukup dilakukan secara tambal sulam, melainkan harus melibatkan tenaga teknis berkompeten.
Ia juga berharap pihak pengelola masjid dilibatkan dalam pemetaan masalah, sebab mereka yang paling memahami titik-titik rawan dan pola pergerakan jamaah setiap hari. “Sinergi itu penting. Jangan sampai menunggu ada korban dulu baru bergerak,” katanya.
Selain itu, Beko meminta agar pemerintah menegaskan standar keamanan pada setiap proyek pembangunan di KTC ke depan. Ia menilai penataan kabel yang semrawut bukan hanya soal estetika, tetapi menyangkut aspek keselamatan publik yang tidak boleh ditawar.
Pada akhirnya, ia menekankan pentingnya respon cepat dari pemkab. “Jangan tunggu viral dulu baru diperbaiki. Ini soal nyawa,” tegasnya. Pemerintah, menurutnya, harus memastikan masjid sebagai pusat kegiatan umat tetap menjadi ruang aman bagi seluruh jamaah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari instansi teknis terkait kondisi kabel tersebut maupun rencana penanganannya. Jamaah dan masyarakat pun berharap persoalan ini segera ditangani sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. (Admin01-Hs)













