Lombok Utara | Kabupaten Sumbawa Barat tengah menatap masa depan dengan penuh kesadaran. Ketika masa kejayaan tambang perlahan mendekati garis akhir, pemerintah daerah memilih tidak menunggu. Sebaliknya, langkah antisipatif mulai disusun melalui kolaborasi lintas wilayah, salah satunya dengan Kabupaten Lombok Utara di sektor pariwisata.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan strategis antara Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang digelar di Hotel Kayana, Lombok Utara, Rabu, 07 Januari 2026. Pertemuan ini menjadi ruang dialog untuk menyamakan visi tentang masa depan ekonomi daerah yang lebih berkelanjutan.
Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, ST.,M.Si hadir langsung dalam pertemuan tersebut bersama Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar. Keduanya didampingi Wakil Bupati Lombok Utara serta jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari masing-masing kabupaten.
Dalam suasana diskusi yang cair, Bupati H. Amar Nurmansyah menyampaikan refleksi jujur tentang posisi Sumbawa Barat hari ini. Selama bertahun-tahun, sektor pertambangan telah menjadi penopang utama ekonomi daerah. Namun, ketergantungan itu, menurutnya, tidak bisa dibiarkan berlanjut tanpa arah baru.
“Tahun 2031, izin usaha pertambangan di wilayah kami akan berakhir. Ini bukan sekadar angka, tetapi penanda bahwa kami harus bersiap melakukan lompatan besar,” ujar orang nomor satu di KSB ini.
Ia menegaskan, transisi menuju ekonomi pasca-tambang harus dimulai sejak sekarang agar tidak menimbulkan guncangan sosial dan ekonomi di kemudian hari. Diversifikasi ekonomi, kata dia, menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam kerangka itu, sektor pariwisata dipandang sebagai salah satu pilihan paling rasional dan menjanjikan. Sumbawa Barat memiliki bentang alam yang kaya, pesisir yang panjang, serta kekayaan budaya yang selama ini belum sepenuhnya terkelola dan terekspos.
Pengembangan pariwisata juga dinilai memiliki keunggulan dari sisi dampak sosial. Selain membuka lapangan kerja, sektor ini memberi ruang partisipasi luas bagi masyarakat lokal, mulai dari pelaku UMKM, pemandu wisata, hingga komunitas budaya.
Sementara, Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar menyambut positif niat kolaborasi tersebut. Dengan pengalaman Lombok Utara mengelola destinasi wisata kelas dunia seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, ia melihat peluang besar untuk saling melengkapi.
“Pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan jejaring, konektivitas, dan kerja sama. Sumbawa Barat punya potensi yang besar, dan kami terbuka untuk berbagi pengalaman,” kata Najmul.
Ia menilai, kolaborasi antardaerah akan memperkuat posisi pariwisata Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan. Paket wisata terintegrasi antarpulau, menurutnya, dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi yang dirasakan daerah.
Pertemuan tersebut tidak berhenti pada tataran gagasan. Jajaran OPD dari kedua kabupaten terlibat dalam diskusi teknis untuk membahas langkah konkret ke depan, mulai dari promosi bersama, pengembangan sumber daya manusia pariwisata, hingga dukungan infrastruktur.
Bagi Sumbawa Barat, kerja sama ini bukan sekadar agenda sektoral, melainkan bagian dari ikhtiar besar menyiapkan masa depan pasca-tambang. Sebuah upaya agar perubahan tidak datang sebagai krisis, melainkan sebagai proses yang direncanakan dan bermartabat.
Kolaborasi Sumbawa Barat dan Lombok Utara pun diharapkan menjadi contoh bagaimana daerah-daerah di NTB dapat saling menguatkan, menjemput peluang baru, dan membangun ketahanan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.(Admin01-Hs)













