PRIMA Dibuka, Amar Siapkan Generasi KSB Tembus Jepang: Bukan Sekadar Cari Kerja, Tapi Mencetak SDM Kelas Dunia

banner 120x600

Taliwang, Hariansumbawa – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mulai menggerakkan langkah besar untuk menyiapkan generasi muda yang mampu bersaing di pasar kerja internasional. Melalui Sosialisasi Program PRIMA (Peningkatan Resiliensi dan Mutu Pekerja Migran Indonesia) ke Jepang Tahun 2026, pemerintah daerah membuka jalan bagi putra-putri daerah untuk bekerja di luar negeri melalui jalur resmi, aman, dan berbasis kompetensi.

Program hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dengan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara tersebut resmi diluncurkan di Lantai III Gedung Graha Praja Setda KSB, Selasa (4/8). Kegiatan dibuka langsung oleh Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si., serta dihadiri perwakilan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara Wiwik Farida, S.Si., perwakilan ISO Jepang Asep Hidayat, jajaran kepala OPD, Kepala Dinas Transmigrasi KSB, dan ratusan peserta beserta orang tua mereka.

Antusiasme masyarakat terhadap program ini tergolong tinggi. Dari total 238 pendaftar, sebanyak 179 peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi. Mereka terdiri atas 146 laki-laki dan 33 perempuan yang siap mengikuti tahapan pembinaan menuju dunia kerja di Jepang.

Dalam sambutannya, Bupati Amar Nurmansyah menegaskan bahwa Program PRIMA bukan sekadar program penempatan tenaga kerja, tetapi bagian dari investasi jangka panjang pemerintah daerah dalam membangun kualitas sumber daya manusia.

“Sejak awal kami memimpin Kabupaten Sumbawa Barat, kami memiliki tekad menghadirkan pemerintahan yang meninggalkan warisan nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui pembangunan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di tingkat global,” tegas Amar.

Menurut Amar, Program PRIMA menjadi salah satu implementasi nyata visi KSB Maju Luar Biasa, khususnya pada klaster industri dan ketenagakerjaan. Karena itu, pemerintah telah melakukan revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK), mulai dari peningkatan fasilitas hingga penyusunan kurikulum yang sesuai kebutuhan dunia industri internasional.

Ia menilai paradigma bekerja ke luar negeri harus berubah. Bukan lagi dipandang sebagai pilihan terakhir mencari nafkah, melainkan kesempatan memperoleh pengalaman profesional, meningkatkan kompetensi, sekaligus membangun karier di level internasional.

“Kita ingin anak-anak Kabupaten Sumbawa Barat berangkat sebagai tenaga kerja profesional yang memiliki sertifikasi, keterampilan, disiplin, kemampuan berbahasa, serta mampu bekerja sesuai standar internasional,” ujarnya.

Bupati juga memastikan pemerintah hanya membuka akses penempatan melalui mekanisme resmi bersama lembaga yang memiliki legalitas jelas. Langkah tersebut dilakukan agar setiap calon pekerja migran memperoleh perlindungan hukum, kepastian kerja, dan pendampingan sejak proses persiapan hingga penempatan.

Pada tahap awal, Program PRIMA menyiapkan kuota sebanyak 50 peserta untuk mengikuti pembinaan intensif. Namun Amar berharap kuota tersebut dapat meningkat hingga dua kali lipat pada pelaksanaan berikutnya.

“Saya berharap kuota ini bisa ditambah menjadi minimal 100 peserta. Tetapi semuanya dilakukan bertahap. Keberhasilan angkatan pertama akan menjadi pijakan untuk memperluas program di tahun-tahun mendatang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Transmigrasi Kabupaten Sumbawa Barat, Slamet Riadi, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa Program PRIMA dirancang sebagai sistem pembinaan pekerja migran yang berlangsung secara berkelanjutan, mulai dari pra-penempatan, masa bekerja di luar negeri, hingga purna penempatan.

Ia mengatakan seluruh peserta yang telah lolos administrasi akan mengikuti tahapan sosialisasi sebelum menjalani pembinaan secara daring selama kurang lebih satu bulan. Selama proses tersebut, peserta akan dievaluasi berdasarkan disiplin, komitmen, sikap, kemampuan belajar, dan kesiapan mengikuti pelatihan lanjutan.

“Program ini memberikan informasi mengenai peluang kerja di Jepang sekaligus membangun kesiapan calon pekerja migran Indonesia melalui proses pembinaan yang berkelanjutan,” jelas Slamet.

Perwakilan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara, Wiwik Farida, S.Si., menyebut Program PRIMA menjadi bukti keseriusan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dalam menciptakan generasi muda yang memiliki daya saing global.

Menurutnya, Jepang dipilih sebagai negara tujuan awal karena memiliki kebutuhan tenaga kerja yang tinggi serta menawarkan lingkungan kerja yang mampu membentuk karakter disiplin, produktif, dan profesional.

“Program ini merupakan kesempatan emas bagi generasi muda Sumbawa Barat. Karena itu, ikutilah seluruh tahapan dengan sungguh-sungguh dan siapkan diri menjadi duta daerah yang mampu menjaga nama baik Indonesia di Jepang,” pesan Wiwik.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bersama Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara dan mitra di Jepang akan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan angkatan pertama. Hasil evaluasi itu akan menjadi dasar penambahan kuota, perluasan kerja sama internasional, serta penguatan Balai Latihan Kerja sebagai pusat pengembangan kompetensi tenaga kerja daerah.

Melalui Program PRIMA, Pemkab Sumbawa Barat tidak hanya membuka peluang kerja bagi generasi muda, tetapi juga sedang membangun fondasi lahirnya SDM unggul yang siap bersaing di era global. Jika berjalan konsisten, program ini berpotensi menjadi model pengembangan tenaga kerja profesional yang mampu membawa nama Kabupaten Sumbawa Barat tampil lebih kompetitif di tingkat internasional. (Admin01-Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *