Oleh :Redaksi Harian Sumbawa
Hariansumbawa.com – Satu tahun masa kepemimpinan Haji Amar Nurmansyah sebagai Bupati Sumbawa Barat bersama Wakil Bupati Hj. Hanipah Musyafirin menjadi momentum penting untuk menilai arah dan kualitas kebijakan yang dijalankan pemerintah daerah. Di antara berbagai program yang diluncurkan, Kartu KSB Maju layak dicatat sebagai salah satu solusi konkret yang ditawarkan kepada masyarakat, khususnya dalam menjawab persoalan layanan dasar.
Program ini dirancang sebagai instrumen integrasi layanan, mencakup pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi. Pendekatan tersebut menunjukkan upaya pemerintah daerah keluar dari pola kebijakan sektoral yang selama ini kerap menimbulkan tumpang tindih program dan inefisiensi anggaran.
Dalam konteks satu tahun kepemimpinan, Kartu KSB Maju menjadi penanda arah kebijakan yang relatif jelas: APBD diarahkan untuk menjangkau langsung kebutuhan warga.
Dari sisi anggaran, realisasi belanja Kartu KSB Maju—khususnya pada layanan pendidikan—mencapai kisaran Rp 6,6 miliar hingga Rp 8,7 miliar, dengan jumlah penerima manfaat lebih dari 12 ribu orang. Bagi ukuran kabupaten, alokasi ini menunjukkan keberanian pemerintah daerah dalam memprioritaskan belanja sosial yang berdampak langsung. Namun, besarnya anggaran juga menuntut pertanggungjawaban yang sepadan.
Redaksi mencatat, efektivitas program masih menghadapi tantangan serius.
Cakupan penerima manfaat yang belum menyentuh seluruh target menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Pendataan, distribusi, serta mekanisme evaluasi harus terus diperbaiki agar program ini tidak berhenti pada sebagian masyarakat saja.
Meski demikian, dari sisi dampak sosial, Kartu KSB Maju mulai menunjukkan manfaat nyata. Di sektor pendidikan, bantuan yang diberikan membantu mengurangi beban biaya keluarga kurang mampu dan mencegah risiko putus sekolah. Di sektor kesehatan dan sosial, kemudahan akses layanan memperkuat kehadiran negara di tengah masyarakat. Tingkat kepuasan publik yang relatif tinggi menjadi indikator awal bahwa program ini tidak sekadar simbol kebijakan.
Dalam perspektif editorial, Kartu KSB Maju dapat dibaca sebagai representasi awal kepemimpinan Haji Amar Nurmansyah yang menekankan solusi praktis, bukan sekadar retorika. Namun, satu tahun kepemimpinan tentu belum cukup untuk menilai keberhasilan secara menyeluruh. Tantangan ke depan adalah memastikan keberlanjutan program, memperluas jangkauan manfaat, serta memperkuat transparansi dan pengawasan anggaran.
Redaksi berpandangan, jika konsistensi kebijakan, akuntabilitas anggaran, dan evaluasi terbuka terus dijaga, maka Kartu KSB Maju berpotensi menjadi lebih dari sekadar program unggulan satu periode. Ia bisa menjadi fondasi pelayanan publik yang berkelanjutan, sekaligus tolok ukur kesungguhan kepemimpinan dalam mengabdi kepada kepentingan rakyat Sumbawa Barat.













