Lombok Tengah – Peristiwa yang sempat viral di media sosial dan disebut sebagai aksi tawuran antarsiswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lombok Tengah akhirnya menemui titik terang. Insiden yang terjadi di depan sekolah pada Jumat (31/7/2026) dipastikan berakhir damai setelah kedua belah pihak menjalani mediasi pada Sabtu (1/8/2026).
Mediasi yang melibatkan keluarga masing-masing siswa, pihak madrasah, serta Kapolsek Praya Tengah tersebut menghasilkan kesepakatan damai. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan sehingga konflik tidak berlanjut.
Kepala MAN 1 Lombok Tengah, Masdiono, menjelaskan bahwa insiden tersebut dipicu oleh kesalahpahaman antarsiswa akibat aksi saling usil di lingkungan sekolah.
“Berawal dari keusilan anak-anak yang melempar botol dan mengenai temannya. Dari situ kemudian terjadi salah paham,” ujarnya.
Masdiono menegaskan bahwa berbagai informasi yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan. Berdasarkan hasil mediasi dan klarifikasi, tidak ditemukan adanya aksi penyerangan maupun pemukulan seperti yang ramai diperbincangkan.
“Alhamdulillah, mediasi tadi sudah berlapang dada. Ini hanya kesalahpahaman dan termakan isu saja. Isu yang ada di media yang simpang siur terkait ada penyerangan dan pemukulan, ternyata tidak ada. Itu yang mereka syukuri sehingga terjadi perdamaian,” katanya.
Menurutnya, meluasnya isu dipicu oleh rekaman video yang diunggah ke media sosial tanpa adanya konfirmasi kepada pihak sekolah maupun pihak terkait.
“Isu ini karena media sosial. Ada seseorang yang merekam kejadian lalu menyebarkannya melalui Facebook tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu,” jelasnya.
Sebagai langkah evaluasi, pihak madrasah akan memperkuat pembinaan terhadap siswa sekaligus menghadirkan layanan pengaduan secara daring agar peserta didik lebih mudah menyampaikan persoalan kepada guru maupun guru Bimbingan Konseling (BK).
“Ini menjadi pembelajaran bagi kami. Ke depan kami akan menyiapkan layanan pengaduan secara online agar anak-anak tidak merasa canggung menyampaikan persoalan kepada guru BK maupun guru lainnya,” ungkapnya.
Masdiono juga menyampaikan bahwa orang tua kedua belah pihak tidak mengajukan tuntutan khusus kepada madrasah. Mereka hanya berharap anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan dalam suasana yang aman, nyaman, dan kondusif.
“Tuntutan orang tua hanya ingin anaknya tetap berada di madrasah, menimba ilmu, dan mendapatkan ketenangan untuk tetap hadir di madrasah,” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa informasi yang beredar di media sosial perlu dikonfirmasi sebelum dipercaya dan disebarluaskan. Klarifikasi dari pihak terkait menjadi langkah penting agar fakta tidak tenggelam oleh narasi yang belum tentu benar. (Admin02-Hs













