Taliwang, Hariansumbawa | Solidarity Center kembali menggelar kegiatan Capacity Building Batch II yang dipusatkan di Killa Balad, Kabupaten Sumbawa Barat, pada Rabu, 8 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas organisasi masyarakat sipil (Civil Society Organization/CSO) agar semakin profesional, mandiri, dan berkelanjutan dalam menjalankan peran sosial di tengah masyarakat.
Direktur Eksekutif Solidarity Center, Benny Tanaya, S.Adm., mengatakan bahwa Batch II difokuskan pada penguatan sumber daya manusia dalam mengelola organisasi masyarakat sipil, sekaligus meningkatkan pemahaman peserta mengenai tata kelola dan manajemen keuangan organisasi non-pemerintah (NGO).
Menurut Benny, kapasitas SDM merupakan fondasi utama dalam membangun organisasi yang sehat, transparan, dan mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan. Oleh karena itu, materi yang diberikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif sehingga dapat diterapkan langsung oleh setiap organisasi peserta.
“Kami ingin setiap organisasi memiliki kemampuan manajerial yang baik, mulai dari penguatan kelembagaan hingga pengelolaan keuangan yang akuntabel. Dengan SDM yang kuat, organisasi akan semakin dipercaya oleh masyarakat maupun para mitra,” ujar Benny saat ditemui media ini, Jum’at, 3 Juli 2026.
Pada Capacity Building LSM/NGO Batch II kali ini, Solidarity Center menghadirkan dua narasumber berpengalaman yang memiliki rekam jejak panjang dalam penguatan kelembagaan, tata kelola organisasi, dan pembangunan daerah. Mereka adalah Dr. Ir. H. W. Musyafirin, MM, Direktur Eksekutif HWM Centre yang juga merupakan Bupati Sumbawa Barat periode 2015–2025, serta Dr. Moh. Taqiuddin, Direktur Konsepsi NTB. Keduanya membagikan pengalaman, wawasan, serta strategi membangun organisasi masyarakat sipil yang kuat, profesional, dan mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan zaman.
Ia menjelaskan, kegiatan ini menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang pengembangan organisasi. Para peserta memperoleh berbagai pengetahuan baru mengenai strategi membangun organisasi secara struktural, memperkuat tata kelola internal, meningkatkan kapasitas kepemimpinan, hingga menciptakan kemandirian organisasi melalui pendekatan yang berkelanjutan.
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti berbagai sesi permainan (game) dan role play sebagai media pembelajaran yang interaktif. Metode tersebut dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang lebih santai, sekaligus mendorong peserta saling berdiskusi, bertukar pengalaman, dan mempererat hubungan antarlembaga.
“Bukan hanya belajar di dalam kelas, tetapi peserta juga diajak membangun komunikasi, kebersamaan, dan saling berbagi pengalaman. Hal ini penting untuk memperkuat jaringan organisasi masyarakat sipil di Sumbawa Barat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Benny menegaskan bahwa output dari Capacity Building Batch II adalah lahirnya komitmen bersama untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan pemberdayaan, serta memperjelas peran dan fungsi NGO dalam mendukung pembangunan daerah secara partisipatif.
Ke depan, Solidarity Center akan terus mendorong strategi kolaborasi melalui konsolidasi, kemitraan, dan pembentukan konsorsium antarlembaga. Strategi tersebut diyakini mampu memperkuat sinergi organisasi masyarakat sipil sehingga memiliki daya tawar dan dampak yang lebih besar dalam mengawal isu-isu sosial, ketenagakerjaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui Capacity Building Batch II ini, Solidarity Center berharap organisasi masyarakat sipil di Kabupaten Sumbawa Barat semakin adaptif, profesional, dan mampu menjadi mitra strategis pemerintah maupun berbagai pemangku kepentingan dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan. (Admin01-Hs)













