Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga KSB, Nurdin Rahman SE
Taliwang, Hariansumbawa | Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus memperkuat pengembangan sektor pariwisata berbasis masyarakat melalui konsep pariwisata kerakyatan. Program tersebut mulai difokuskan di Kecamatan Brang Ene dan Brang Rea sebagai upaya menghadirkan destinasi wisata yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mampu membuka ruang usaha baru bagi masyarakat desa.
Konsep pariwisata kerakyatan yang diusung Pemkab KSB menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan wisata. Setiap titik atau check point wisata dirancang bukan sekadar lokasi singgah, melainkan menjadi pusat aktivitas ekonomi warga.
Di kawasan tersebut, masyarakat nantinya diberi ruang untuk menjual hasil pertanian, produk UMKM, hingga kuliner khas desa. Dengan pola ini, manfaat ekonomi dari sektor wisata diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga KSB, Nurdin Rahman SE mengatakan, pengembangan pariwisata di daerah tidak hanya bertumpu pada investasi besar, tetapi juga memberi ruang luas kepada masyarakat untuk terlibat secara langsung.
“Pariwisata kerakyatan menempatkan warga sebagai pelaku utama, mulai dari pengelola hingga penerima manfaat ekonomi,” ujarnya kepada media ini, Senin (20/04/2025).
Menurut Nurdin, Pemkab KSB saat ini menjalankan dua pendekatan pengembangan pariwisata, yakni pariwisata investasi dan pariwisata kerakyatan. Untuk sektor investasi, pemerintah fokus pada kemudahan regulasi dan perizinan. Sementara pariwisata kerakyatan diarahkan pada pemberdayaan masyarakat desa.
Ia menjelaskan, pengembangan wisata juga dibagi dalam beberapa klaster yang saling terintegrasi, salah satunya sektor industri pangan berbasis masyarakat. Dengan demikian, wisata tidak hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga menjadi sarana pemasaran produk lokal warga.
“Fokus kita bukan sekadar menghadirkan wisata mewah, tetapi bagaimana pariwisata mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara nyata,” katanya.
Selain aspek ekonomi, pemerintah daerah juga menaruh perhatian besar terhadap keberlanjutan lingkungan. Edukasi terkait kebersihan sungai, pengelolaan sampah, pelestarian pohon, hingga menjaga budaya lokal terus dilakukan agar pengembangan wisata tetap ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Menurutnya, potensi wisata KSB sangat besar dan memiliki daya tarik yang mampu memperkenalkan daerah ke tingkat yang lebih luas. Karena itu, kesiapan masyarakat menjadi bagian penting agar peluang tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dalam proses pengembangannya, pemerintah berperan sebagai fasilitator dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), PKK, hingga Karang Taruna. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat partisipasi masyarakat dalam menggerakkan ekonomi lokal.
Saat ini, program masih berada pada tahap sosialisasi di wilayah Brang Ene dan Brang Rea sebelum masuk ke proses tender. Pemerintah juga terus melakukan pendekatan dialog dengan pemilik lahan guna menghindari konflik, mengingat pengembangan dilakukan tanpa pembebasan lahan. Ke depan, pengelolaan kawasan wisata akan dilakukan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bersama dengan dukungan dokumen Rencana Induk Pariwisata.
Pemkab KSB sendiri telah menyiapkan anggaran sebesar Rp13 miliar untuk pengembangan kawasan wisata Tiu Suntuk di Brang Ene dan Bintang Bano di Brang Rea sebagai bagian dari upaya menjadikan pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan. (Admin01-Hs)













