Pasien Tembus Ribuan, RSUD Asy-Syifa Kejar BLUD dan Tekan Rujukan

banner 120x600

Foto. Direktur RSUD Asy Syifa, Andy Suhaeri, S.ST., M.M.Inov

Taliwang, Hariansumbawa – Aktivitas pelayanan di RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat terus menunjukkan tren tinggi. Setiap bulan, ribuan pasien memanfaatkan layanan rumah sakit daerah tersebut, kondisi yang sekaligus menjadi tantangan bagi manajemen untuk meningkatkan kapasitas pelayanan dan mengejar target Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Direktur RSUD Asy-Syifa, Andy Suhaeri, S.ST., M.M.Inov., mengungkapkan kunjungan rawat jalan saat ini berada di kisaran 4.800 pasien setiap bulan. Sementara pasien rawat inap mencapai sekitar 500 orang per bulan.

“Kalau rawat jalan itu sekarang sekitar 4.800 pasien per bulan. Kemudian untuk rawat inap kurang lebih 500 pasien setiap bulan,” kata Andy kepada awak media, Senin, 14 September 2026.

Tingginya angka kunjungan tersebut, menurut Andy, menjadi indikator bahwa masyarakat semakin memanfaatkan RSUD Asy-Syifa sebagai fasilitas pelayanan kesehatan rujukan di Sumbawa Barat. Namun, kondisi itu juga menuntut rumah sakit terus meningkatkan kelengkapan layanan agar kebutuhan pasien dapat ditangani sedekat mungkin dengan tempat tinggalnya.

“Data kunjungan dan data rujukan itu menjadi bahan kami untuk melihat kebutuhan pelayanan yang harus dikembangkan,” ujarnya.

Andy menjelaskan, berdasarkan evaluasi manajemen, angka rujukan keluar saat ini masih berada pada kisaran 3 sampai 5 persen dari total kunjungan. Rujukan tersebut terutama terjadi pada kasus yang belum didukung ketersediaan dokter spesialis tertentu, antara lain patah tulang, urologi, dan kanker.

Karena itu, manajemen RSUD Asy-Syifa tengah mendorong penguatan tiga layanan spesialis baru. Langkah tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan kemandirian rumah sakit dalam menangani kasus medis.

“Rujukan itu sebagian besar karena memang spesialisnya belum ada, seperti patah tulang, urologi, dan kanker,” jelas Andy.

Sebagai rumah sakit yang menerapkan pola BLUD, RSUD Asy-Syifa dituntut memiliki target pelayanan yang terukur. Salah satu indikator yang terus dievaluasi adalah kemampuan rumah sakit menekan angka rujukan tanpa mengurangi kualitas dan keselamatan pasien.

Andy menegaskan, pengembangan layanan bukan sekadar menambah tenaga dokter. Menurut dia, ketersediaan sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan fasilitas serta peralatan medis yang memadai sehingga kasus yang sebenarnya dapat ditangani di Sumbawa Barat tidak perlu dikirim ke rumah sakit di luar daerah.

“Hampir semua spesialis sudah berkomitmen, kalau memang bisa dirawat di sini, ya tidak perlu dirujuk,” tegasnya.

Meski demikian, Andy menekankan bahwa kebijakan menekan rujukan tidak berarti rumah sakit akan memaksakan seluruh pasien untuk ditangani di RSUD Asy-Syifa. Rujukan tetap menjadi pilihan apabila kondisi pasien membutuhkan peralatan atau layanan tertentu yang belum tersedia.

“Kecuali yang ada spesialisnya di Asy-Syifa, tapi tidak ada alatnya di kami, itu memang bisa dirujuk. Tapi angkanya sedikit sekali,” pungkasnya.

Ke depan, data kunjungan, jenis penyakit, hingga pola rujukan akan terus menjadi bahan evaluasi manajemen. Dengan memperkuat layanan spesialis sekaligus melengkapi sarana medis, RSUD Asy-Syifa menargetkan pelayanan semakin paripurna, angka rujukan semakin rendah, dan target BLUD dapat dicapai tanpa mengorbankan mutu pelayanan kepada masyarakat. (Admin01-Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *