Foto. Pemerhati lingkungan dan keselamatan berkendara, Abu Bakar Beko
Sumbawa Barat | Lokasi bekas longsor di kawasan Poto Batu, ruas jalan lintas Taliwang–Maluk, kembali menuai sorotan tajam dari warga. Kondisi jalan yang masih berlumpur dan licin membuat pengendara roda dua berulang kali terjatuh ketika melintas. Situasi ini menandai lemahnya respon cepat pemerintah daerah dalam memastikan keselamatan pengguna jalan.
Pemerhati lingkungan dan keselamatan berkendara, Abu Bakar Beko, menegaskan bahwa titik longsor tersebut sudah sejak awal berpotensi menimbulkan kecelakaan. Namun hingga kini, penanganan dari instansi terkait belum terlihat signifikan.
“Ada beberapa orang yang jatuh. Jalan itu licin sekali, sangat berbahaya bagi pengendara roda dua,” ujarnya kepada media ini, Kamis, 26 Februari 2026.
Menurut Beko, kondisi itu tidak boleh dianggap sepele. Ia menyoroti minimnya langkah antisipasi dari Dinas Perhubungan (Dishub) Sumbawa Barat, khususnya bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Padahal, pemasangan rambu atau plank peringatan dapat menjadi solusi cepat untuk mencegah jatuhnya korban tambahan.
“Mohon dari pihak Dishub memasang plank sementara di lokasi longsor karena sangat berbahaya bagi pengguna jalan,” tegasnya. Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan publik yang merasa dibiarkan menghadapi risiko kecelakaan setiap hari.
Kritik serupa datang dari warga yang rutin melewati jalur tersebut. Mereka mengaku harus ekstra berhati-hati, apalagi saat malam hari ketika pencahayaan nyaris tidak ada dan medan menjadi semakin sulit. Ketiadaan rambu peringatan dinilai memperburuk situasi.
“Setelah saya jatuh, ada juga pengendara lain yang jatuh bersama istri dan anaknya di tempat yang sama,” ungkap seorang warga. Kesaksian ini menegaskan bahwa peristiwa serupa bukan insiden tunggal, melainkan berulang.
Warga menyebut para pengendara kerap kehilangan kendali karena lapisan lumpur membuat ban selip tiba-tiba. Pada kondisi lebih parah, sebagian dari mereka bahkan harus turun dan mendorong motor agar bisa melewati titik yang licin tersebut. Situasi ini jelas tidak layak dibiarkan berlangsung berhari-hari.
Beko menambahkan, intensitas hujan yang masih tinggi memperbesar risiko. Air yang terus mengalir dari tebing membawa material lumpur hingga menutup badan jalan. Tanpa tindakan cepat, potensi kecelakaan dipastikan semakin besar.
Warga berharap pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada upaya darurat seperti pemasangan rambu sementara, tetapi juga menyiapkan penanganan permanen. Perbaikan struktur tebing, drainase, hingga pengerasan ulang badan jalan menjadi kebutuhan mendesak demi mengembalikan rasa aman pengguna jalan.
“Kami berharap respons cepat dari dinas terkait sebelum ada korban lain yang jatuh,” tutup Beko. Seruan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar mengeluh, tetapi meminta pemerintah hadir secara nyata.
Longsor yang memicu kerusakan tersebut dipicu curah hujan tinggi beberapa hari terakhir. Material longsoran kemudian menutup sebagian ruas jalan dan hingga kini belum ditangani secara tuntas oleh instansi terkait.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dishub KSB belum memberikan keterangan resmi terkait permintaan warga maupun rencana penanganan pada titik longsor Poto Batu. Ketidakjelasan ini membuat publik bertanya: sampai kapan keselamatan pengguna jalan harus dipertaruhkan? (Admin01-Hs)













