Foto. Peneliti sekaligus penyelenggara kegiatan, Dr. Muammar Khadafie, M.Pd.I, dalam acara Focus Group Discussion (FGD)
Sumbawa, Hariansumbawa | Upaya menggali sekaligus merawat kearifan lokal terus dilakukan kalangan akademisi di Sumbawa. Salah satunya melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Konstruksi Tradisi Sedekah Ponan dalam Merawat Lingkungan secara Berkelanjutan” yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026 di Ruang Multimedia STP Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi yang mempertemukan akademisi, peneliti, serta pemerhati budaya untuk mengkaji lebih dalam makna dan nilai yang terkandung dalam tradisi Sedekah Ponan, sebuah tradisi masyarakat Sumbawa yang hingga kini masih terus dijaga keberlangsungannya.
FGD tersebut merupakan bagian dari program penelitian yang didukung oleh Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Dukungan ini menunjukkan bahwa tradisi lokal memiliki nilai penting tidak hanya dalam konteks budaya, tetapi juga dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
Peneliti sekaligus penyelenggara kegiatan, Dr. Muammar Khadafie, M.Pd.I, menjelaskan bahwa Sedekah Ponan tidak dapat dipandang semata sebagai ritual adat yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat.
“Sedekah Ponan bukan sekadar kegiatan budaya atau tradisi seremonial, tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai penting yang berkaitan dengan cara masyarakat menjaga keseimbangan antara manusia dan alam,” ujar Dr. Muammar Khadafie.
Ia menambahkan bahwa masyarakat lokal sebenarnya telah lama memiliki pengetahuan ekologis yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui praktik-praktik budaya seperti Sedekah Ponan.

Menurut Dr. Muammar Khadafie, tradisi tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat lokal memiliki cara pandang yang bijak terhadap alam dan lingkungan. Ia menyebutkan bahwa praktik budaya ini menunjukkan bagaimana masyarakat memaknai alam sebagai bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga bersama.
“Tradisi seperti Sedekah Ponan mengajarkan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus mengingatkan manusia untuk tidak merusak alam yang menjadi sumber kehidupan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menilai bahwa kearifan lokal semacam ini memiliki relevansi yang kuat dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang saat ini banyak dibicarakan di tingkat global.
Dr. Muammar Khadafie juga menuturkan bahwa melalui kegiatan FGD ini pihaknya ingin membuka ruang dialog dan refleksi bersama tentang bagaimana tradisi lokal dapat menjadi inspirasi dalam merawat lingkungan di tengah berbagai tantangan pembangunan modern.
“Melalui diskusi ini, kami berharap nilai-nilai yang terkandung dalam Sedekah Ponan dapat dipahami secara lebih mendalam, sekaligus menjadi rujukan dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat,” ungkapnya.
Melalui forum ilmiah ini pula, Universitas Teknologi Sumbawa berupaya mendorong lahirnya kajian-kajian akademik yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam pelestarian budaya dan lingkungan.
Pada akhirnya, tradisi Sedekah Ponan tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya semata, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan lokal yang dapat menjadi inspirasi dalam merawat hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam demi masa depan yang berkelanjutan. (Kief-Hs)













