Lintasan Hentraktor dan Combine Disiapkan, Pariwisata Kerakyatan KSB Tetap Prioritaskan Aktivitas Warga

banner 120x600

Sumbawa Barat | Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyiapkan lintasan khusus bagi kendaraan pertanian seperti hand tractor dan combine harvester untuk mendukung aktivitas masyarakat di kawasan pengembangan pariwisata kerakyatan Tiu Suntuk. Jalur tersebut disiapkan agar mobilitas petani tetap berjalan tanpa mengganggu pengembangan kawasan wisata berbasis masyarakat.

Pemerintah daerah menilai pengembangan pariwisata tidak boleh memutus aktivitas utama warga, terutama sektor pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, konsep pariwisata kerakyatan yang dikembangkan tetap memberi ruang bagi kendaraan pertanian melintas menuju lahan garapan warga.

“Jadi untuk lintasan seperti hand tractor dan combine nanti disiapkan lintasan untuk menyebrang ke sana,” ujar Nurdin Rahman, SE Kadis Parpora KSB saat menjelaskan konsep pengembangan kawasan wisata berbasis masyarakat tersebut, Jum’at, 24 April 2026.

Selain akses kendaraan pertanian, pemerintah juga mulai menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang sederhana seperti jogging track dan ruang terbuka bagi masyarakat. Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa pariwisata kerakyatan bukan berorientasi pada pembangunan fasilitas mewah, melainkan bagaimana masyarakat dapat merasakan manfaat ekonomi secara langsung.

Menurutnya, inti dari pariwisata kerakyatan adalah menciptakan peluang penghasilan baru bagi warga sekitar. Masyarakat diharapkan menjadi pelaku utama, mulai dari penyedia jasa, kuliner, hingga usaha kecil yang tumbuh dari aktivitas wisata.

Pemerintah juga menekankan pentingnya aspek proteksi lingkungan dalam pengembangan kawasan wisata. Kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan dinilai menjadi fondasi utama agar sektor pariwisata dapat bertahan dalam jangka panjang.

“Proteksi itu bagaimana masyarakat mampu membaca keberlanjutan. Hutan tetap ada, sungai tetap bersih, budaya lokal tetap dijaga. Dengan adanya pariwisata kerakyatan, masyarakat juga belajar soal kebersihan dan pengelolaan sampah,” ujarnya.

Ia mengakui, tidak semua masyarakat langsung memahami atau menerima konsep pariwisata. Kondisi tersebut dinilai wajar mengingat sektor pariwisata di KSB masih dalam tahap awal pengembangan meski memiliki potensi besar di berbagai wilayah.

“Kita melihat pariwisata kita masih nol, baru memulai. Potensi banyak, ada yang menerima dan ada yang tidak. Ini lumrah,” katanya.

Pemerintah meyakini, geliat pariwisata akan tumbuh seiring meningkatnya konektivitas wilayah. Kehadiran infrastruktur transportasi dinilai akan membuka akses pergerakan orang dan barang sehingga memicu aktivitas ekonomi baru di masyarakat.

“Ketika ada transportasi, maka menghubungkan orang dan barang. Maka ada aktivitas dan konektivitas terhubung,” jelasnya.

Karena itu, Nurdin melanjutkan, pemerintah menilai masyarakat KSB harus disiapkan sejak awal agar mampu menghadapi perkembangan investasi pariwisata ke depan. Melalui konsep pariwisata kerakyatan, warga didorong memahami pasar wisata sekaligus menjadi pelaku utama sebelum investasi besar masuk ke daerah tersebut.

“Jadi KSB harus siap. Pariwisata ini masyarakat harus siap dulu. Ketika nanti investasi datang, pariwisata kerakyatan sudah siap. Masyarakat juga harus bisa membaca bagaimana pasar pariwisata ke depan,” pungkas Nurdin. (Admin01-Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *