“Utang miliaran bukan akhir dari perjalanan; ketika hati diperbaiki, ikhtiar diperkuat, dan langkah tak pernah berhenti, keterpurukan bisa menjadi pintu menuju kebangkitan.”
Hariansumbawa.com | Pernahkah Anda berada di titik di mana jalan terasa terlihat buntu? Pintu-pintu kesempatan tertutup rapat dan dunia seolah-olah runtuh menghimpit dada. Bayangkan perasaan itu dikalikan seratus kali lipat. Itulah yang dirasakan oleh seorang pria, sebut saja namanya Pak Hardi. Ketika suatu pagi bangun dan menyadari angka-angka di kertas tagihannya sudah menyentuh satu milyar rupiah.
Bagi orang awam uang satu milyar itu bukan cuma angka di atas kertas, tapi adalah sebuah gunung besar yang siap longsor dan mengubur hidup sekeluarga. Hutang sebesar itu datang dari kegagalan bisnis yang beruntun, tertipu rekan kerja dan akumulasi bunga yang menggulung tanpa ampun.
Setiap hari handphone pak Hardi tak pernah berhenti berdering oleh teror penagih hutang. Rumahnya tak lagi menjadi tempat yang aman, melainkan seperti penjara bawah tanah yang penuh ketakutan. Pada titik terandah ini, logika manusia biasanya akan langsung bekerja mencari jalan pintas. Pikiran mulai berputar mencari pinjaman baru untuk menutup pinjaman lama. Beberapa orang bahkan mulai berpikir jatuh ke jalan yang kelam, ikut pesugihan atau bahkan yang paling tragis adalah memilih mengakhiri hidup karena sudah tidak kuat lagi menahan malu dan tekanan.
Pak Hardi pun hampir terjebak dalam pusaran keputus-asaan yang sama. Ia sudah mendatangi teman lamanya, memelas kepada kerabat hingga menggadaikan sisa-sisa aset yang ia miliki. Namun hasilnya nihil. Bantuan dari sesama manusia ternyata ada batasnya. Ketika kita sedang jaya semua orang mendekat. Tetapi begitu kita jatuh miskin dan terlilit hutang, bayangan kita sendiri pun seolah-olah ingin lari meninggalkan kita.
Di tengah malam yang sunyi, saat seluruh kota tertidur lelap, Pak Hardi duduk termenung di sudut kamarnya. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia menyadari satu hal yang sangat krusial. Selama ini ia terlalu mengandalkan kekuatannya sendiri, terlalu percaya kepada koneksi bisnisnya dan terlalu menyembah logika dunianya. Ia lupa bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengatur setiap helai nafas dan sepeser rezeki di dunia ini.
Dalam kesendirian itu, ia mulai kembali membuka buku-buku agama dan tidak sengaja membaca sebuah buku wasiat dan untaian nasehat dari seorang ulama besar yaitu Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Wasiat itu berbicara sangat mendalam tentang hakekat sebuah ujian hidup.
Syekh Abdul Qodir Jailani menjelaskan bahwa ketika seseorang diberikan ujian berupa kesempitan harta atau lilitan hutang yang mencekik, itu sebenarnya adalah sebuah sinyal atau teguran keras. Teguran itu bukan karena Sang Pemilik Alam Semesta benci kepada hamba-Nya, melainkan karena Sang Pencipta Alam Semesta rindu mendengarkan suara rintihan batin hamba-Nya.
Hutang satu milyar yang di alami Pak Hardi bukanlah hukuman mati bagi masa depannya, melainkan sebuah undangan resmi agar ia kembali bersujud dan mengetuk pintu langit. Selama ini hati Pak Hardi terlalu penuh dengan urusan dunia, sehingga Sang Pemilik Alam Semesta mengosongkan dompetnya agar hatinya kembali punya ruang untuk mengingat-Nya.
Prinsip dasar dari ajaran Syekh Abdul Qodir Jailani yang membuat Pak Hardi tersadar adalah tentang konsep pembersihan wadah. Bayangkan jika kamu ingin meminta air susu yang murni dan segar, tetapi gelas yang kamu sodorkan dalam kondisi kotor penuh lumpur dan berbau bisuk. Tentu saja sang pemberi tidak akan menuangkan susu tersebut sebelum kamu mencuci bersih gelasnya. Begitu pula dengan rezeki dan jalan keluar dari masalah finansial.
Rezeki dari Sang Pemilik Alam Semesta itu Maha Suci dan Maha Luas, namun wadah di dalam diri kita yaitu hati kita sering kali tersumbat oleh debu-debu dosa. Kesombongan, rasa tidak bersyukur dan kelalaian. Hutang dan kesempitan hidup adalah akibat dari tersumbatnya aliran rezeki tersebut.
Lalu bagaimana cara membersihkan wadah yang kotor itu? Jawabannya adalah dengan senjata yang sangat sederhana namun memiliki kekuatan yang dahsyat yaitu Istighfar.
Banyak dari kita yang menganggap istighfar hanyalah sekedar ucapan lisan yang dibaca setelah sholat. Atau sekedar kata yang diucapkan ketika kita terkejut melihat sesuatu yang buruk. Padahal dalam kaca mata spiritual yang mendalam, istighfar adalah sebuah proses pembongkaran total terhadap ego manusia. Ketika seseorang mengucapkan kalimat mohon ampun, ia sedang menurunkan semua gengsinya, mengakui segela kelemahan di hadapan Sang Pemilik Alam Semesta dan menyatakan bahwa dirinya tidak mempunyai daya dan upaya apapun tanpa pertolongan-Nya.
Pak Hardi memulai merenungkan hal ini dengan sangat serius. Ia menyadari bahwa selama ini pekerjaannya mungkin dipenuhi dengan transaksi yang kurang jujur atau barangkali ada hak orang miskin yang belum ia tunaikan atau bisa jadi ia pernah menyakiti hati orang tuanya. Dosa-dosa inilah yang menjadi tembok raksasa yang menghalangi datangnya pertolongan.
Logika manusia mengatakan bahwa untuk melunasi hutang 1 milyar, kita harus bekerja keras selama 24 jam penuh. Namun ajaran spiritual mengajarkan hal yang sebaliknya. Perbaiki dulu hubunganmu dengan Sang Pemilik Alam Semesta, maka Allah yang akan memperbaiki hubunganmu dengan dunia dan segala urusan keuanganmu.
Maka dimulailah sebuah komitmen yang awalnya terasa sangat berat dan mustahil bagi orang awam. Pak Hardi memutuskan untuk mengamalkan istighfar sebanyak 10.000 kali setiap harinya. Bagi orang yang terbiasa hidup dengan ritme kerja yang cepat dan praktis, angka 10.000 tentu terdengar sangat tidak masuk akal. Muncul pertanyaan di dalam hati, bagaimana mungkin orang yang sedang dikejar penagih hutang justru menghabiskan waktunya untuk memutar tasbih? Bukankah itu tindakan yang membuang-buang waktu? Di sinilah letak perdebatan batin yang sering dialami oleh banyak orang. Banyak yang gagal paham bahwa ini adalah bentuk pelarian dari tanggung jawab atau kemalasan. Namun Pak Hardi memilih untuk menutup telinganya dari segala keraguan tersebut. Ia membagi target 10.000 istighfar itu ke dalam beberapa bagian agar tetasa lebih ringan. Setiap selesai melaksanakan sholat fardhu 5 waktu, ia meluangkan waktu khusus untuk duduk diam dan membaca istighfar sebanyak 2000 kali. Jika ditotal dalam 5 waktu sholat, maka angka 10.000 itu akan terpenuhi satu hari.
Pada hari-hari pertama amalan ini sangat terasa menyiksa. Pikirannya terus melayang memikirkan tagihan yang jatuh tempo. Bayangan wajah orang-orang yang menagih hutang terus bermunculan dan setumpuk rasa bosan serta rasa kantuk yang luar biasa selalu menyerang di tengah hitungan dzikir.
Syekh Abdul Qodir Al-Jailani pernah berpesan bahwa dalam menempuh jalur spiritual, ujian terberatnya adalah keistiqomahan (konsistensi) di awal perjalanan. Ketika kita mulai mengetuk pintu ampunan, energi-energi negatif di dalam diri kita akan meronta-ronta karena mereka tidak mau dibersihkan. Rasa ragu dan bisikan untuk menyerah akan terus membayangi, membisikkan kata-kata seperti: “untuk apa kamu melakukan ini? Hutangmu tidak akan berkurang satu rupiah pun hanya dengan membaca kalimat ini.”
Tetapi Pak Hardi terus bertahan. Setiap kali pikirannya buyar, ia langsung memfokuskan kembali hatinya. Menyadari bahwa ia sedang berbicara langsung, memelas dan mengemis di hadapan Sang Pemilik Alam Semesta yang memegang ubun-ubun semua manusia termasuk memegang hati para penagih hutangnya.
Memasuki minggu kedua dan ketiga, sebuah keajaiban internal mulai terjadi di dalam diri Pak Hardi. Meskipun secara lahiriah hutangnya yang satu milyar itu belum berkurang sepeser pun dan para penagih hutang masih terus menelpon. Ada sesuatu yang berubah drastis di dadanya. Rasa takut yang biasanya mencekik setiap pagi perlahan-lahan lenyap berganti dengan rasa tenang yang luar biasa. Ia tidak lagi gemetar saat mendengar ketukan pintu rumah. Hatinya merasa sangat yakin bahwa ia tidak lagi berjalan sendirian.
Ketika wadah hatinya mulai bersih dari kotoran dosa lewat basuhan 10.000 istighfar setiap hari, Sang Pemilik Alam Semesta mulai menuangkan rasa damai ke dalamnya. Rasa damai inilah modal utama yang paling mahal. Karena dari hati yang tenang, pikiran yang jernih akan lahir. Dan dari pikiran yang jernih, solusi-solusi bisnis yang cerdas akan mulai bermunculan.
Memasuki bulan kedua sejak Pak Hardi memulai perjalanan spiritualnya, badai di luara sana belum sepenuhnya mereda. Namun pondasi di dirinya sudah jauh lebih kokoh berkah amalan istighfarnya yang ia istiqomahkan 10.000 setiap harinya.
Banyak orang mengira bahwa ketika seseorang itu beristighfar 10.000 kali, uang 1 milyar rupiah akan mendadak jatuh dari langit atau muncul di bawah bantal. Pandangan seperti inilah yang sering muncul memicu perdebatan dan skeptisisme.
Namun ajaran spiritual yang murni dari Syekh Abdul Qodir Jailani tidak pernah mengajarkan hal-hal mistis yang instan tanpa proses. Sang Pemilik Alam Semesta bekerja dengan sangat rapi, logis, namun penuh kejutan melalui skenario yang tidak bisa ditebak oleh otak manusia yang terbatas.
Langkah pertama yang terjadi dalam fase ini adalah perubahan cara pandang orang-orang di sekitar Pak Hardi terutama mereka yang memegang piutang. Logikanya seorang penagih hutang akan terus menekan, memaki bahkan mengancam. Namun pada satu malam ketika Pak Hardi menyelesaikan putaran istighfarnya yang ke sekian ribu, ia mendapatkan telepon dari salah satu kreditor terbesarnya. Seorang pengusaha yang terkenal sangat galak dan tidak kenal kompromi. Pak Hardi sudah siap untuk menerima makian seperti biasanya. Ia menarik napas dalam-dalam menata hatinya dan berbisik dalam hati bahwa ia sedang menyerahkan urusan ini sepenuhnya kepada Allah yang memegang kendali atas hati manusia.
Ketika telepon diangkat, suara telepon di sebrang sana berubah drastis. Tidak ada teriakan, tidak ada makian. Pengusaha tersebut justru berbicara dengan nada yang tenang bahkan cenderung melunak. Ia mengatakan bahwa entah kenapa beberapa hari terakhir ini wajah Pak Hardi terus terbayang di pikirannya dan ada rasa iba yang mendalam tiba-tiba muncul di hatinya.
Pengusaha itu kemudian memberikan sebuah kelonggaran yang tidak masuk akal dalam dunia bisnis. Ia bersedia menghapus seluruh bunga yang menggulung, memberikan potongan pokok hutang dan memperpanjang masa tenor pelunasan hingga beberapa tahun ke depan tanpa jaminan tambahan. Bagi Pak Hardi, ini adalah keajaiban besar yang pertama. Beban hutang 1 milyar yang tadinya terasa sangat menghimpit, seketika berkurang setengahnya hanya dalam satu panggilan telepon. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Jika kita merujuk kepada ajaran Syekh Abdul Qodir Jailani, beliau sering menekankan bahwa ketika seorang hamba memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka makhluk-makhluk bumi akan ditundukkan untuk membantu hamba tersebut.
Ketika Pak Hardi sibuk mengetuk pintu langit dengan 10.000 istighfar, Allah kemudian menggerakkan hati sang pengusaha galak tersebut untuk memberikan jalan keluar. Ini adalah sebuah pembuktian bahwa jalur batin jauh lebih lebih cepat dan efektif daripada kita harus mengemis-ngemis atau berdebat kusir dengan sesama manusia.
Namun keajaiban tidak berhenti sampai di situ. Kelonggaran hutang barulah sebuah awal karena target utamanya bukan sekedar bebas dari hutang, tetapi bagaimana mengubah nasib menjadi seorang milyarder. Di sinilah dinamika kerja keras dan jalur langit berpadu.
Dari hati Pak Hardi yang sudah bersih dan tenang, lahir sebuah ide bisnis baru yang sangat segar. Ia melihat sebuah peluang di bidang perdagangan komoditas lokal yang selama ini diabaikan oleh orang lain. Dengan sisa modal yang sangat minim bahkan nyaris tanpa modal uang sama sekali melainkan hanya modal kepercayaan.
Pak Hardi mulai melangkah kembali di dunia bisnis. Ia tidak lagi melangkah dengan kesombongan seperti masa lalunya. Setiap kali ia mau menemui klien, mengetik proposal dan menuju tempat usahanya selalu lidahnya basah mengucapkan istighfar. Amalan 10.000 istighfar itu kini sudah tidak lagi menjadi beban, melainkan sudah menyatu menjadi helai nafasnya. Istighfar telah bertransformasi dari sekedar ritual di atas sajadah menjadi sebuah sistem bahan bakar spiritual yang menggerakkan seluruh aktivitas usahanya.
Bisnis baru Pak Hardi berkembang dengan kecepatan yang sangat tidak wajar. Klien-klien besar datang sendiri tanpa ia harus melakukan promosi besar-besaran. Setiap negoisasi berjalan dengan sangat mulus seolah-olah seluruh alam semesta sedang bekerja sama untuk mempermudah jalan bisnisnya.
Dalam waktu kurang dari satu tahun, keuntungan dari bisnis baru itu tidak hanya cukup melunasi sisa hutang pokoknya yang ratusan juta itu, tetapi juga menciptakan surplus yang sangat besar. Rekeningnya yang tadinya minus dipenuhi dengan garis merah, kini mulai terisi dengan angka-angka nol yang terus bertambah hingga mencapai angka milyaran rupiah. Pak Hardi resmi bertranspormasi dari seorang yang hampir hancur karena lilitan hutang 1 milyar menjadi seorang milyarder baru dengan gurita bisnis yang berkah dan bermanfaat bagi banyak orang. Ia mampu membeli kembali aset-aset yang hilang bahkan kini bisa membuka lapangan pekerjaan bagi ratusan orang. (**)













