Solidarity Center: STBM KSB Gagal Dipertahankan, BABS Kembali Marak di Mana-Mana

banner 120x600

Jika praktik buang air besar sembarangan kembali terjadi, maka implementasi lima pilar STBM perlu dievaluasi secara menyeluruh agar capaian yang pernah diraih tidak sekadar menjadi catatan sejarah.”

Sumbawa Barat | Direktur Eksekutif Solidarity Center, Benny Tanaya, S.Adm, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi sanitasi di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Menurutnya, praktik buang air besar sembarangan (BABS) kini kembali marak terjadi di berbagai wilayah, sehingga kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Benny menyebut kondisi tersebut sebagai ironi besar, karena keberhasilan yang dahulu menjadi kebanggaan nasional tidak berhasil dipertahankan secara berkelanjutan. Ia mengaku menemukan kembali praktik BABS di sejumlah lokasi yang semestinya sudah bebas dari perilaku tersebut.

“Kabupaten Sumbawa Barat sekarang darurat buang air besar sembarangan. Praktik BABS sudah kembali terjadi di mana-mana. Ini menjadi alarm serius bahwa capaian STBM yang pernah diraih tidak mampu dipertahankan secara berkelanjutan,” tegas Direktur Eksekutif Solidarity Center, Benny Tanaya, S.Adm, kepada Hariansumbawa.com, Jumat (24/7/2026).

Ia menilai capaian STBM KSB saat ini telah merosot jauh dibandingkan ketika daerah ini memperoleh pengakuan nasional. Kemunduran itu, katanya, menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat yang selama ini dibangun tidak dijaga secara konsisten.

“STBM kita sudah sangat rendah. Buang air besar sembarangan sudah kembali seperti dulu. Ini menjadi bukti bahwa perubahan perilaku masyarakat yang pernah dibangun tidak lagi terjaga dengan baik,” ujarnya.

Kritik Benny juga mengarah pada rencana Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat yang akan memperlombakan STBM. Menurut dia, perlombaan tidak akan memiliki makna apabila indikator utama STBM belum benar-benar terpenuhi di lapangan. Ia mengatakan masih menemukan kondisi yang bertentangan dengan prinsip sanitasi yang sehat.

“Kalau tidak tahu indikatornya, percuma. Fakta di tengah masyarakat masih terlihat ada WC yang dibangun di atas saluran air. Itu aneh,” sindirnya.

Benny mengingatkan bahwa KSB pernah menjadi rujukan nasional dalam pelaksanaan STBM. Namun, menurutnya, capaian itu kini hanya menjadi catatan sejarah apabila pemerintah dan masyarakat gagal mempertahankan lima pilar STBM secara berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa kondisi sanitasi saat ini, berdasarkan pengamatannya, mencerminkan lemahnya upaya menjaga hasil yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Akibatnya, perilaku BABS kembali muncul di tengah masyarakat.

“KSB pernah meraih Rekor MURI sebagai kabupaten pertama di Indonesia yang menuntaskan lima pilar STBM. Tetapi sekarang lima pilar itu tidak dijaga dengan baik dan gagal dipertahankan. Kini sudah banyak warga yang kembali buang air besar sembarangan,” tandasnya.

Lima pilar STBM meliputi Stop Buang Air Besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT), Pengamanan Sampah Rumah Tangga, serta Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga. Penuntasan lima pilar tersebut pernah menjadi prestasi besar Kabupaten Sumbawa Barat pada periode kepemimpinan sebelumnya hingga memperoleh pengakuan Rekor MURI.

Sorotan Benny menjadi pengingat bahwa keberhasilan program sanitasi tidak berhenti pada penghargaan. Ia mengingatkan, tantangan terbesar justru menjaga perubahan perilaku masyarakat agar tetap konsisten dari waktu ke waktu.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat maupun instansi terkait mengenai kritik yang disampaikan Benny Tanaya. Redaksi memberikan ruang bagi pemerintah untuk menyampaikan klarifikasi atau tanggapan sebagai bagian dari prinsip keberimbangan pemberitaan. (Admin01-Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *