Oleh: Redaksi Hariansumbawa
Hariansumbawa.com | Jabatan sering kali membuat seseorang lupa membedakan antara kehormatan dan kekuasaan. Ketika berada di posisi tinggi, sebagian orang mulai merasa dirinya lebih penting daripada orang lain. Cara berbicara berubah, sikap mengeras, dan penghormatan seolah menjadi sesuatu yang wajib diberikan oleh siapa pun yang berhadapan dengannya. Padahal, jabatan bukan mahkota yang membuat seseorang lebih mulia. Ia hanyalah amanah yang sewaktu-waktu bisa berakhir, bahkan ketika pemiliknya masih merasa berada di puncak.
Kita perlu memahami satu hal sederhana: jabatan itu biasa saja, yang luar biasa adalah bagaimana seseorang memaknainya. Ada orang yang tetap santun ketika memiliki kewenangan, tetapi ada pula yang justru berubah setelah mendapatkan kedudukan. Seolah-olah kursi yang didudukinya telah mengubah derajat kemanusiaannya. Padahal, jabatan hanya menunjukkan posisi seseorang dalam struktur organisasi, bukan ukuran kecerdasan, kematangan, apalagi kualitas moralnya.
Waktu adalah penguji yang tidak pernah bisa disuap oleh kekuasaan. Hari ini seseorang disambut dengan penghormatan, besok belum tentu namanya masih diperhitungkan. Ada yang melesat dalam waktu singkat, tetapi tidak membutuhkan waktu lama pula untuk kehilangan pengaruh. Sebaliknya, ada yang lama berada di pinggir, bekerja dalam senyap, lalu mendapatkan kepercayaan besar ketika kesempatan datang. Perjalanan hidup tidak pernah benar-benar lurus. Karena itu, terlalu berlebihan memaknai jabatan sama saja dengan lupa bahwa keadaan bisa berubah kapan saja.
Yang patut dikhawatirkan bukanlah tingginya jabatan, melainkan rendahnya kemampuan seseorang membaca keadaan. Kekuasaan bisa membuat orang dikelilingi banyak wajah yang tersenyum, tetapi tidak semua senyuman berarti kekaguman. Tidak semua sapaan mengandung penghormatan yang tulus. Dan tidak semua diam berarti persetujuan. Ada kalanya seseorang memilih diam karena menghormati keadaan, menjaga etika, atau sekadar tidak ingin memperpanjang persoalan.
Di sinilah pentingnya kecerdasan membaca lingkungan. Jangan sampai kekecewaan orang lain ditafsirkan sebagai rasa iri. Jangan sampai kejengkelan dianggap sebagai bentuk penghormatan. Lebih berbahaya lagi jika kritik diperlakukan sebagai pembangkangan, sementara pujian diterima sebagai bukti bahwa segala sesuatu telah berjalan sempurna. Kesalahan membaca situasi dapat melahirkan kesalahan mengambil keputusan. Ketika itu terjadi, seseorang bukan hanya kehilangan kepekaan, tetapi juga berisiko kehilangan kepercayaan.
Orang yang benar-benar cerdas tidak sibuk menuntut penghormatan, melainkan berusaha menjadi pribadi yang layak dihormati. Ada perbedaan besar antara dihormati karena sikap dan ditakuti karena jabatan. Penghormatan yang lahir dari ketulusan akan bertahan sekalipun seseorang sudah tidak memiliki kewenangan. Sebaliknya, penghormatan yang muncul karena tekanan biasanya ikut menghilang ketika kekuasaan berpindah tangan. Yang tersisa hanyalah pertanyaan: siapa sebenarnya yang dihormati, orangnya atau jabatannya?
Karena itu, sesekali seseorang perlu berhenti sejenak untuk mengoreksi tingkah laku dan sikapnya sendiri. Bagaimana ia berbicara kepada bawahan? Bagaimana ia memperlakukan orang yang berbeda pendapat? Apakah ia masih bersedia mendengar masukan, atau justru menganggap dirinya selalu benar? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jauh lebih penting daripada sibuk menghitung siapa yang menyapa lebih dahulu, siapa yang berdiri ketika dirinya datang, atau siapa yang dianggap kurang memberikan penghormatan.
Sayangnya, tidak semua orang menyadari bahwa sikap berlebihan justru dapat memperlihatkan kelemahan. Orang yang terus-menerus meminta pengakuan sering kali sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang pentingnya kedudukannya. Ia merasa perlu menegaskan kewenangan dalam setiap percakapan, memperlihatkan kuasa dalam setiap perbedaan, dan menuntut perlakuan khusus dalam setiap kesempatan. Padahal, semakin besar tanggung jawab seseorang, semestinya semakin besar pula kemampuannya mengendalikan ego.
Dalam tradisi intelektual, kecerdasan tidak berhenti pada kemampuan memahami persoalan atau memenangkan perdebatan. Kecerdasan juga tercermin dalam kesanggupan mengendalikan diri, menerima kritik, menghargai perbedaan, dan memperlakukan orang lain secara manusiawi. Orang yang sungguh-sungguh belajar akan memahami bahwa pengetahuan selalu memiliki batas. Orang yang matang akan menyadari bahwa dirinya bisa keliru. Dan orang yang berkelas tidak membutuhkan panggung untuk membuktikan bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.
Kesantunan, dengan demikian, bukan kelemahan. Kerendahan hati bukan tanda bahwa seseorang kehilangan wibawa. Justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji. Seorang pemimpin yang santun tidak kehilangan ketegasan. Ia tetap dapat mengambil keputusan, menegakkan aturan, dan mempertahankan prinsip tanpa harus merendahkan orang lain. Ia memahami bahwa kewenangan merupakan alat untuk menjalankan tanggung jawab, bukan tiket untuk meminta perlakuan istimewa.
Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Seseorang boleh memilih menjadi pribadi yang terus belajar, atau merasa dirinya sudah paling tahu. Boleh memilih membangun penghormatan melalui keteladanan, atau memaksakannya melalui kedudukan. Boleh pula memilih menjaga hubungan dengan kesantunan, atau merusaknya karena terlalu sibuk mengukur harga diri berdasarkan perlakuan orang lain. Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi. Waktu akan memperlihatkan mana sikap yang membangun kepercayaan dan mana yang justru menjauhkan orang-orang di sekitarnya.
Maka, siapa pun yang hari ini sedang menduduki jabatan penting, tidak perlu merasa terlalu tinggi. Nikmati amanah itu sewajarnya, jalankan tanggung jawab sebaik-baiknya, dan tetaplah menjadi manusia yang bisa menghargai manusia lainnya. Sebab, jabatan memiliki masa berlaku, kekuasaan memiliki batas, dan pengaruh tidak selalu menetap. Ketika kursi itu kelak kosong, yang akan dikenang bukan seberapa keras seseorang menuntut penghormatan, melainkan seberapa tulus ia menghormati orang lain. Jabatan boleh tinggi, tetapi hati jangan ikut meninggi. Karena dalam perjalanan hidup, yang paling mudah jatuh bukan selalu orang yang berada di bawah, melainkan mereka yang terlalu yakin dirinya tidak mungkin turun. (**)













