Foto. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga KSB, Nurdin Rahman, SE
Sumbawa Barat | Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mulai memantapkan arah pembangunan sektor pariwisata berbasis masyarakat melalui pengembangan kawasan wisata Tiu Suntuk dan Bintang Bano. Untuk mendukung program tersebut, pemerintah daerah menyiapkan anggaran sekitar Rp13 miliar sebagai langkah awal memperkuat konsep pariwisata kerakyatan yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga KSB, Nurdin Rahman, SE mengatakan bahwa pengembangan dua destinasi tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga diarahkan untuk membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Menurutnya, pariwisata kerakyatan menjadi strategi penting menghadapi masa transisi ekonomi daerah pasca tambang.
“Total anggaran yang disiapkan sekitar Rp13 miliar untuk pengembangan pariwisata kerakyatan Tiu Suntuk dan Bintang Bano,” ujar Nurdin Rahman kepada media Hariansumbawa.com, Jum’at, 17 April 2026.
Ia menjelaskan, saat ini pemerintah daerah tengah menyelesaikan berbagai tahapan perencanaan agar pembangunan destinasi wisata dilakukan secara terarah dan berkelanjutan. Penyusunan rencana induk pariwisata daerah disebut dilakukan secara paralel dengan penyusunan RPJMD Kabupaten Sumbawa Barat agar arah pembangunan memiliki kesinambungan yang jelas.
“Raperkap dan rencana induk pariwisata yang disusun bersama UGM sudah selesai. Sekarang sedang diajukan dalam bentuk rancangan Raperda,” katanya.
Nurdin menilai, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program pariwisata kerakyatan. Karena itu, pemerintah daerah terus melakukan sosialisasi dan membangun pemahaman bersama agar masyarakat merasa memiliki program tersebut dan dapat mengambil manfaat ekonomi secara langsung.
“Kita libatkan mereka semua agar mereka paham dan ikut memiliki program pariwisata kerakyatan ini,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa potensi wisata di Kabupaten Sumbawa Barat masih sangat luas untuk dikembangkan. Selain Tiu Suntuk dan Bintang Bano, pemerintah daerah mulai menyiapkan kawasan Danau Lebo dan Pantai Balada sebagai destinasi wisata masa depan yang dapat tumbuh bersama aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Menurut Nurdin, Danau Lebo memiliki posisi strategis untuk dikembangkan sebagai rest area dan pusat aktivitas masyarakat, terutama ketika industri smelter mulai beroperasi penuh. Ia mengatakan kawasan tersebut berpotensi menjadi tempat singgah selama 24 jam yang dapat menghadirkan peluang usaha baru bagi warga setempat.
“Suatu saat akan ada pariwisata kerakyatan Lebo dan Pantai Balad. Danau Lebo bisa menjadi rest area dan tempat singgah masyarakat selama 24 jam ketika industri smelter berjalan,” tandasnya. (Admin02-Hs)













